RSS

Reposisi Gereja dalam Perkembangan Teologi Abad 21

18 Feb

Oleh : Dr. Sonny Eli Zaluchu, M.A, M.Th

Dimuat di Jurnal Pasca Sekolah Tinggi Theologia Baptis Indonesia (STBI) Semarang. Volume 7/No. 1/Maret 2010 halaman 115-137

Pendahuluan

Abad 21 adalah salah satu abad yang menantang pemikiran manusia terutama dalam memahami dan menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Mengapa? Salah satu ciri dalam abad ini adalah pencapaian yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, sedemikian rupa sehingga orang menjadi lebih bergantung pada semua pencapaian tersebut yang nyata-nyata menolong dan meningkatkan efektifitas bahkan kualitas hidup. Teknologi seolah-olah telah menjadi jawaban bagi semua kebutuhan manusia modern. Ruang dan waktu tidak lagi menjadi batasan antar manusia untuk saling membangun hubungan. Informasi bergerak dengan cepat melalui sambungan internet. Dunia yang semula tersekat oleh politik, budaya dan batas teritorial berubah menjadi global dan menyatu dalam gerak dinamis teknologi yang semakin merasuk di dalam segala aspek kehidupan manusia. Perkembangan tersebut memperlihatkan tanggap positif di satu sisi selama teknologi itu digunakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Tetapi tanggap negatif akan muncul manakala semua kemajuan tersebut, ternyata berbalik menjadikan manusia sebagai objeknya, tersandera oleh hasil pikirannya sendiri melalui sejumlah produk teknologi dan justru mereduksi makna Allah yang transenden.

Salah satu contohnya adalah, kecenderungan manusia untuk semakin berpikir praktis (pragmatisme), berorientasi pada pengetahuan atau akalnya (rasionalisme) dan meringkas berbagai kerumitan, proses tradisional yang rumit dan bertele-tele, dalam sebuah shortcut teknologi sehingga bukan saja tenaga dan waktu yang di hemat, melainkan efektifitas dan efisiensi, termasuk didalamnya urusan modal dan sumber daya manusia. Orientasi manusia berubah karena mengarah pada hal-hal yang bisa dibuktikan, melibatkan pengalaman dan hasil pengamatan yang otentik (empirisme). Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dua aliran filsafat yang pernah muncul di abad pertengahan (rasionalisme dan empirisme) dan satu aliran filsafat abad sembilan belas (pragmatisme), seolah kembali mendapat tempat di dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Inilah yang kelak membentuk kecenderungan baru teologi abad ke-21 yang berusaha menyingkirkan Tuhan dari panggung aktifitas manusia dan membawa pengaruh signifikan bagi pembentukan serta perkembangan teologi abad ke-21. Hal ini akan dibahas pada bagian selanjutnya makalah ini.

Tinjauan Singkat Pragmatisme, Rasionalisme dan Empirisme

Pemikiran dan pola hidup untuk semakin pragmatis dengan sendirinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan  di abad ke 21. Masyarakat Amerika adalah contoh sangat konkret

mengenai perilaku pragmatis melalui American Ethos.[1] Pengaruh dalam aliran ini dibentuk oleh filsafat pragmatis yang salah satunya digagas oleh John Dewey (1859-1952). Dalam perilaku keseharian, pragmatisme menjadi nilai-nilai vital kehidupan yang ikut mengatur perilaku dan cara pandang masyarakat, terutama dalam berhubungan dengan orang lain.[2] Bagi masyarakat Amerika, sesuatu yang penting, sebagaimana ditekankan oleh aliran filsafat ini, adalah konkrit, terukur dan jelas penggunaanya.[3] Dalam sudut pandang filsafat pragmatisme, kebenaran sebuah teori dan pengetahuan harus bisa dibuktikan melalui pengalaman dan tindakan manusia.[4] Melalui pengalaman tersebut, kebenaran dapat diuji untuk diterima atau ditolak.[5]

Bukan hanya soal pragmatisme, abad ke 21 juga mengantar manusia untuk menjadi semakin rasional di dalam memahami segala sesuatu. Rasionalisme adalah sebuah pandangan filsafat yang menekankan rasio manusia sebagai penentu kebenaran.[6] Dalam pandangan ini, segala sesuatu dihakimi berdasarkan akal dan pikiran. Jika sesuatu mendapat penjelasan secara rasional, maka sesuatu itu dapat diterima. Demikian sebaliknya. Aliran ini pada awalnya dikembangkan oleh Descartes (1596-1650) seorang filsuf Perancis sebagai responnya terhadap berbagai pergumulan dunia.[7]

Satu aliran terakhir yang memberi ciri abad ke 21 adalah empirisme.[8] Aliran ini menekankan pengalaman sebagai titik tolak kebenaran. Empirisme adalah kebenaran yang diterima melalui pengalaman, percobaan, penemuan dan pengamatan yang telah dilakukan. Menurut Brown, berbeda dengan orang rasionalis yang berusaha menegakkan sistem filsafat dengan memakai pikiran berdasarkan kebenaran-kebenaran yang menurut dugaan orang terbukti dengan sendirinya,  penekanan empiris justru pada pengalaman yang datang melalui indera manusia.[9] Beberapa tokohnya antara lain John Locke (1632-1704), George Berkeley (1685-1753) dan David Hume (1711-1776).

Menguatnya aliran filsafat seperti dikemukakan di atas hanyalah sebuah contoh untuk mengantar memasuki pokok utama makalah ini, yakni reposisi gereja di dalam

perkembangan teologi Kristen di dekade awal abad 21. Sesuatu yang menguat akan mengarah pada sebuah kecenderungan. Jika kecenderungan manusia abad 21 mengarah pada kekuatan pikirannya, pengalamannya dan hal-hal yang praktis di dalam hidupnya, maka paling tidak hal itu akan mempengaruhi cara pandang mereka dan rancang bangun teologis yang mereka buat.

Reposisi Gereja dan Abad 21

Zaman yang berubah menuntut penyesuaian. Termasuk didalamnya gereja, perlu

melakukan tanggap terhadap perubahan yang demikian cepat yang berlangsung disekitarnya. Gereja sendiri adalah hasil dari perubahan. Sebagai hasil dari perubahan, gereja memiliki sejarah dan terus berkembang seiring perlananan waktu.  Menurut  Th. Van den End sejarah gereja adalah kisah tentang perkembangan-perkembangan dan perubahan yang dialami oleh gereja selama di dunia ini. Yaitu kisah tentang pergumulan antara Injil dengan bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengabarkan Injil. End menganalogikan gereja sebagai sebuah pohon yang awalnya merupakan sebuah tunas kecil,

kemudian tumbuh dengan batang yang besar dengan dahan, cabang dan ranting yang banyak, tidak sama ukurannya dan bentuknya. Begitu pula halnya dengan gereja-gereja yang lahir dari jemaat pertama yang berlainan: dalam hal tata gereja, tata kebaktian, dan ajaran (red. teologinya). Tetapi semuanya itu berakar dalam tanah yang sama.”[10] Sejak zaman pantekosta berlangsung, gereja mengalami perubahan yang sangat pesat, baik dari segi jumlah pengikutnya, tata caranya, organisasinya dan juga ajaran-ajarannya (dalam hal ini katakan sebagai teologinya). Bahkan hingga kini gereja tumbuh di dalam berbagai denominasi dan aliran yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Hal tersebut membuktikan bahwa gereja dalam sejarahnya, telah mengalami perkembangan yang demikian pesat

sebagai tubuh Kristus di dunia. Dalam perkembangan itu sendiri, gereja bukan hanya bertahan membangun dirinya dari dalam, juga mempertahankan dirinya dari berbagai musuh yang secara sistematis berniat menghancurkan gereja terutama dalam menghadapi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Fakta sejarah membuktikan, gereja mampu bertahan dari gejolak-gejolak yang berlangsung secara internal.

Setiap masa yang berbeda akan menghasilkan tantangan dan persoalan yang berbeda pula. Demikian juga di abad ke 21, yang dicirikan sebagai sebuah masa dimana orang akan

semakin pragmatis, rasional dan empiris, gereja akan menghadapi tantangan tersendiri yang menuntut respon gereja untuk mempersiapkan diri menghadapi semua itu. Injil yang menjadi sentra pemberitaan gereja tentu akan banyak mengalami gugatan dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan pendekatan rasionalistik. Hal ini juga sekaligus merupakan tantangan bagi gereja untuk semakin aktual dan mewujudkan perannya secara nyata, di tengah masyarakat modern yang justru sedang bergerak ke arah sekular.

Penyesuaian apa yang dapat dilakukan oleh gereja untuk bisa bertahan dan bertumbuh? Paling tidak ada dua hal. Pertama penyesuaian strategis, untuk merubah apa yang

dipandang perlu dalam hal ajaran, tata cara, organisasi dan strategi pemberitaan Injil; dan kedua, penyesuaian yang bersifat konsolidatif, sebuah usaha untuk merapatkan barisan dan memperkokoh ajaran gereja (yakni Injil) di tengah situasi dan alam pikiran manusia yang secara tegas menarik batas antara hal-hal dunia (yang nyata, yang dimengerti dan real) dengan hal-hal rohani (yang dianggap abstrak dan tidak nalar). Untuk hal yang kedua ini, gereja perlu membangun kembali satu teologi yang benar-benar berdiri atas kebenaran firman.

 

Jika timeline perkembangan teologi diamati dengan seksama maka muncul satu pertanyaan penting, bagaimanakah perkembangan rancang bangun teologi modern di dekade pertama abad ke-21? Berikut beberapa kecenderungannya.

Kecenderungan Menuju Teologi Imanensi

Dengan memperhatikan berbagai fenomena yang ada dan tren yang muncul di dalam abad ke-21 sebagai abad dimana ajaran filsafat pragmatisme, rasionalisme dan empirisme kembali mendapat tempatnya, manusia akan memiliki kecenderungan untuk menyimpulkan segala sesuatu dengan bertitik tolak semata-mata pada alam dan natur manusia yakni akal budi. Inilah yang disebut dengan teologi imanensi.

Kamus Besar  Bahasa Indonesia memberi penjelasan bahwa imanen artinya berada dalam kesadaran atau akal budi.[11] Secara harafiah artinya ‘tinggal di dalam’. Penjelasan dari Tom Jacobs sangat bagus tentang arti kata ini. Dikatakannya, imanen adalah salah satu sifat Alllah dimana Dia tidak hanya berada di atas sana dan terpisah dengan ciptaanNya (transenden) melainkan juga ada di dalam dunia meskipun tidak berasal dari dunia (imanen). [12] Daniel Lukito menangkap memang terdapat satu kecenderungan teologi di abad ke-21yang dibangun di atas landasan imanensi. Sebagai akibatnya, Allah yang transenden itu menjadi hilang dan lebih banyak menjelma di dalam kehidupan manusia di dunia.  Keberadaan Allah dianggap menyerap dan berbaur di dalam seluruh alam, peristiwa dan kehidupan manusia.[13] Bahaya dari bangun teologi semacam ini adalah menghilangkan setiap aspek transendensi Allah dan mereduksi Allah yang transenden itu ke dalam hal-hal praktis, terlihat dan terukur bahkan terancam dijadikan sama dengan dunia. Sifat kemahakuasaan dan supernatural Allah tidak diterima di dalam lingkup teologi imanensi. Memusatkan bangun teologi atas imanensi, seperti kata Jacobs, membawa bahaya monisme[14] atau bahkan panteisme.[15] Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa imanensi ini mendapat tempat? Orang modern yang semakin rasional, empirik dan pragmatis dalam kehidupannya sehari-hari, juga akan cenderung berpikiran sama di dalam memaknai Allah dan hubungannya dengan Allah. Ditambah dengan arah pergerakan dunia dan semua produknya ke hal-hal yang semakin praktis akan membuat dasar pijakan yang kokoh bagi teologi ini untuk berkembang. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana seharusnya?

Menarik sekali apa yang diungkapkan oleh Grenz dalam bukunya yang sangat bagus tentang 20th Century Theology. Teologi Kristen terbaik adalah teologi yang harus dibangun secara seimbang antara dua kebenaran ilahi yang paling hakiki yakni transendensi dan imanensi. Pada satu tangan, Allah terhubung dengan dunia secara transenden. Karena itu, Dia bukan bagian dari dunia dan melebihi alam semesta. Pengkhotbah mengatakan bahwa “Allah ada di Surga dan engkau di bumi” (Pkh 5:1). Sementara itu di tangan yang lain, Allah tampil sebagai pribadi yang imanen, yang artinya hadir di dalam ciptaan-Nya. Dia ada di dalam sejarah manusia, mengatur dan mengontrol alam semesta dan berada di dalam setiap proses yang berlangsung dalam dunia ini. Seperti Rasul Paulus katakan dalam salah satu kotbahnya kepada orang-orang Yunani dalam sebuah pertemuan di Aeropagus, “di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kisah 17:28).[16] Penekanan pada imanensi hanya akan membuat teologi berkembang mendukung perkembangan zaman yang makin sekular dan makin jauh dari kebenaran hakiki yang sesungguhnya yakni firman Allah.

Menguatnya Teologi Sekularisasi

Teologia sekularisasi akan menjadi salah satu pilar teologi abad ke-21 dimana akan banyak orang yang semakin berpikir, bertindak dan berperilaku dengan cara memisahkan secara radikal dan tegas antara hal-hal sekular dan hal-hal yang sakral. Akibatnya, hal-hal yang sakral tersebut akan semakin terkunci di ruang yang paling pribadi dan dalam pengaruh yang makin dipersempit areanya. Sebagai abad yang bercorak teknologi, agama yang sakral dan segala sesuatu yang sifatnya supernatural, tidak mendapat tempat dalam sistem budaya dan sosial. Sekularisasi banyak mengambil alih paradigma, nilai dan bahkan tindakan manusia. Orang mulai fokus pada hal-hal yang duniawi, yang ada di dalam dunia ini daripada urusan supernatural di dalam gereja. Dampaknya, pandangan orang mengenai iman Kristen mulai berubah dan mengalami pergeseran. Masyarakat berpaling pada azas-azas ideologi lain sebagai sebuah tanggap sejarah atas perkembangan pemikiran baru di tengah arus modernitas. Salah satu penyebabnya adalah struktur pembentukan masyarakat Barat yang di awali dengan pra-anggapan pra-anggapan sekuler (non-keagaamaan) dimana aktifitas beragama dipandang sebagai sebuah pilihan yang sangat pribadi bagi individu.[17]

Dalam pandangan Karel Dobbelaere sekularisasi adalah suatu proses dalam masyarakat yang telah mengalami perubahan-perubahan struktural, di dalam mana suatu sistem keagamaan yang transenden dan mencakup segalanya disusutkan menjadi suatu subsistem dari masyarakat yang ada bersama subsistem-subsistem lainnya; proses ini membuat klaim-klaim tentang pencakupan segalanya itu kehilangan relevansinya. Dengan demikian, lembaga agama termarjinalisasi dan terprivatisasi.[18] Dengan kata lain, aturan-aturan keagamaan tradisional, atau norma-norma yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan, akan semakin digantikan oleh norma-norma sekular atau betul-betul tersingkir, menjadi tidak dapat dipakai di dalam subsistem-subsistem pendidikan, keluarga, politik, hubungan sosial, ekonomi, dan sains, yang berbeda-beda.[19] Bahaya dari teologi yang dibangun dengan cara seperti ini sangat jelas. Manusia sesungguhnya diarahkan semakin menjauh dari Tuhan. Jika dibiarkan terus tanpa kontrol, maka pintu bagi sekularisme menjadi terbuka selebar-lebarnya.[20] Titik tolak teologi sekularisasi adalah munculnya penafsiran baru soal kehidupan kekristenan. Teologi ini adalah hasil dari pemikiran para teolog Barat yang dipengaruhi oleh semangat modernisme yaitu rasionalisme dan sekularisme, yang sebetulnya adalah ciri masyarakat  abad ke-20.

Penafsiran baru ini menolak penafsiran lama yang menyatakan bahwa ada alam lain yang lebih hebat dan lebih agamis dari alam ini. Para teolog ini beranggapan bahwa alam yang lebih nyata dan kerajaan yang sebenarnya adalah realitas yang ada saat ini yaitu dunia. Sebagai milik Allah, manusia bukan berarti tanpa dunia. Manusia tinggal dan berada di dalam dunia dan harus menemukan sikap yang sebenarnya terhadap Allah dan dunia. Sikap yang benar itu adalah membiarkan Allah tetap Allah dan dunia tetap dunia.[21] Sebagai akibat semakin sekulernya masyarakat di zaman modern, terjadi perubahan radikal di dalam memandang gereja, ajarannya dan terhadap kitab suci. Gereja dan otoritas kitab suci mulai dipertanyakan dan beberapa isinya dianggap tidak relevan lagi. Muncul pendekatan baru terhadap kita suci dengan memperlakukannya sebagai produk literer. Dalam anggapan ini, Alkitab diperlakukan sebagai dokumen-dokumen yang lahir dari sejarah. Inilah yang kemudian melahirkan pendekatan yang bersifat kritis-historis terhadap Alkitab. Terdapat banyak tokoh dan teolog yang ikut menggagas teologi sekularisasi seperti Thomas J.J Altizer, William Hamilton, Gabriel Vahanian dan Richard Rubenstein.[22] Pokok pikiran mereka mendukung konsep Allah mati di dalam dunia modern.[23]

Salah seorang teolog yang mencoba melakukan pendekatan baru dengan dengan dunia modern adalah Friederich Gogarten (1887), seorang pakar di dalam ilmu teologi. Gogarten memikirkan suatu konfrontasi iman Kristen dengan  realitas dunia yang telah berubah menjadi sekuler. Menurutnya, sekularisasi adalah produk iman Kristen sendiri; sebuah gejala post-Kristen sebagai akibat yang wajar terjadi. Iman Kristen mendorong manusia untuk menguasai dan mengelola bumi. Manusia bukan hanya manusia yang tanpa Allah melainkan juga bukan manusia yang tanpa dunia. Manusia berada di antara Allah dan dunia dan harus menemukan sikap yang sebenarnya terhadap keduanya. Itulah sebabnya Gogarten setuju membiarkan Allah tetap Allah dan manusia tetap manusia. Untuk itu, Gogarten membedakan dua macam sekularisasi. Yang pertama adalah sekularisasi yang tetap terikat pada iman Kristen dan itulah yang harus diperjuangkan. Jangan sampai sekularisasi berubah jadi sekularisme (bentuk kedua), yakni sekularisasi yang melepaskan diri dari iman Kristiani. Sekularisme merupakan penyelewengan dari sekularisasi. Inilah yang menjadi tugas iman Kristen di dalam teologi sekularisasi, melindungi sekularisasi agar tidak menyeleweng menjadi sekularisme.[24]

Tokoh kedua yang mendukung teologi sekularisasi ialah Dietrich Bonhoeffer (1906-1945). Belajar teologi di Union Theological Seminary New York sebelum akhirnya menjadi dosen teologi di Berlin. Ia juga sempat belajar di Universitas Tubingen. Saat kembali ke Jerman Bonhoeffer adalah salah seorang penentang Nazi dan arogansi Hitler dengan ras Arya-nya. Aktifitas politiknya membuat ia dilarang berbicara di depan umum dan juga dilarang menulis atau mengedarkan buku. Ia ditangkap dan dipenjarakan tahun 1943 dan dihukum mati oleh Nazi pada tahun 1945, beberapa hari sebelum Jerman menyerah pada sekutu. Di dalam penjara ia menulis sebuah karya yang terkenal Letters and Papers from Prison. Pemikirannya sangat terinspirasi oleh Karl Bath. Bonhoeffer mendukung pemikiran Gogarten mengenai kemampuan akaliah manusia yang telah berkembang sehingga menjadikan dunia menjadi sekuler. Itu adalah bagian dari sejarah yang mau tidak mau harus disikapi. Dalam pandangan Bonhoeffer, sekularisasi telah mengakhiri keberadaan agama. Dalilnya yang terkenal menyebutkan bahwa zaman sekarang ini adalah zaman akhir religi karena sudah bukan zamannya lagi orang dipengaruhi dengan kata-kata yang saleh.[25]

Bagaimanapun teologi sekularisasi bukanlah teologi yang membawa kembali otoritas Alkitab sebagai firman Allah yang hidup. Pandangan orang sekuler terhadap Alkitab justru bertolak belakang dengan misi dan keberadaan Alkitab itu sendiri sebagai penyataan khusus Allah kepada manusia. Bahkan kalau dunia ini disebut sekular, maka tugas orang Kristen bukanlah menjadi ikut sekular seperti dunia tetapi justru mengubah dunia dengan menggaraminya menggunakan firman Allah.

Berkembangnya Teologi Akhir Zaman

Abad ke-21 adalah abad dimana teologi eskatologis (dari bahasa Yunani yang berarti ‘terakhir’) akan kembali menjadi isyu teologi terpenting. Baru-baru ini film tentang akhir zaman berjudul 2012 menjadi bahan pembicaraan yang ramai. Film itu diangkat dari sejumlah buku konspiratif yang disusun berdasarkan penanggalan kalender suku bangsa Maya yang meramalkan bahwa pada tanggal 21 bulan 12 tahun 2012, terjadi pergantian menuju tahun baru dalam penanggalan Maya. Hebohnya penanggalan ini muncul karena bangsa Maya meyakini bahwa dalam siklus penanggalan mereka, tanggal tersebut sekaligus menandai era baru di dalam sejarah manusia.[26] Pada titik inilah teori konspirasi mulai muncul dan seperti efek domino, kiamat tahun 2012 menjadi topik paling hangat. Berbagai pakar mulai melihat kemungkinan itu dari sudut pandangan keilmuan masing-masing. Apalagi dalam konteks kebudayaan Maya, disetiap akhir siklus kalender mereka, menyongsong abad yang baru, selalu terjadi bencana alam, saking hebatnya dapat menghancurkan sebuah peradaban.[27] Apakah ini yang disebut kiamat?

Persoalan yang selalu terulang dari sebuah teologi eskatologis adalah tidak ada seorangpun yang mampu meramalkan dengan tepat kapan sebetulnya kiamat atau akhir zaman itu berlangsung dan dengan cara apa Tuhan bekerja. Banyak bidat-bidat dan pengajaran Kristiani yang sesat dalam membangun teologi akhir zamannya, selalu berakhir dalam situasi yang sama, ramalan mereka akhirnya tidak terbukti. Pertanyaannya, mengapa ini menjadi sebuah tren di abad ke 21? Bisa jadi, pragmatisme, rasionalisme dan empirisme telah mengikis sikap peduli manusia terhadap hal-hal yang sakral. Sementara itu, dalam pergumulan menjalani hidup di dunia ini terbukti bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan oleh manusia dengan segala kehebatan dan kepintarannya. Artinya, natur manusia yang terbatas itu selalu mengikuti pencapaian apapun yang telah berhasil dilakukan manusia. Itulah sebabnya muncul pengharapan akan keadaan yang jauh lebih baik, pengharapan akan masa depan yang menjamin kehidupan kekal.

Ciri khusus dari eskatologi Kristen adalah sifat sentralitas Kristus. Kedatangan-Nya yang kedua kalinya akan menandai berakhirnya era manusia dan mulainya era pemerintahan seribu tahun. Eskatologis bukan hanya mengajak orang untuk merenungkan secara pribadi tentang nasib akhir dirinya, tetapi lebih untuk membiarkan perspektif pengharapan yang ada didalamnya mempengaruhi kehidupan secara menyeluruh.[28] Jika teologi semacam ini yang dibangun, maka tentulah alkitabiah. Tetapi perkembangan teologi akhir zaman yang berkembang belakangan ini justru tidak memiliki ciri eskatologi Kristen dan terjebak pada konspirasi yang dirancang oleh pandangan agama lain, para ilmuwan dan scientific dan juga oleh penulis-penulis buku popular. Bahaya membangun teologi eskatologi yang melenceng dari natur kekristenan sangat mengerikan. Terjadi penipuan dan rekayasa, bahkan munculnya sikap manipulatif untuk membentuk opini manusia, termasuk dalam membentuk opini orang percaya melalui kutipan firman Tuhan.

Eskatologis akhir zaman seharusnya membangkitkan pengharapan mesianik yang kuat dan bukan justru membangun ketakutan atau kekuatiran. Alkitab memang secara tegas menyatakan bahwa akhir zaman akan tiba secara misterius. Tetapi Alkitab sama sekali tidak memberikan petunjuk tentang kapan tepatnya terjadi. Misteri di dalam tema ekstatologis telah menarik banyak minat teolog dari masa ke masa yang telah mencoba mengembangkan dan menafsirkannya. Besar kemungkinan bahwa dalam menyongsong paruh kedua abad ke-21 yang akan datang, tema eskatologis ini akan semakin menjadi bahan pembicaraan sekaligus perdebatan baik di kalangan teolog, gereja maupun awam. Di antara sejumlah alasannya, faktor melemahnya teologi kemakmuran yang sempat mendominasi pengajaran teologi abad kedua puluh, telah membuka kesempatan bagi hadirnya tema eskatologis sebagai rancang bangun pengganti yang akan populer.

Bentuk Baru Teologi Liberal

Bursa buku teologi di Indonesia akhir-akhir ini menjadi semakin ramai dengan hadirnya sejumlah bacaan yang selama ini terkesan tabu dibicarakan dalam lingkup teologi gereja. Bacaan-bacaan yang oleh gereja mula-mula digolongkan sebagai bidat dan ajaran sesat, justru telah menarik minat kalangan akademik untuk menyelidikinya dan memperkaya pengetahuannya. Setelah dunia teologi dihebohkan dengan penemuan makam Talpiot maka bermunculan berbagai teori konspiratif tentang Yesus, kredibilitas keilahian-Nya dan orisinalitas ajaran-Nya dalam Injil. Hadirnya buku-buku yang membeberkan injil-injil tersembunyi seperti Injil Filipus, Injil Maria Magdalena, Injil Yudas dan juga keberadaan surat-surat yang selama ini tertutup dari kalangan awam seperti Surat Henokh, telah memancing perdebatan seru tentang keilahian Yesus Kristus.

Sebetulnya isu tersebut di atas bukan hal yang baru dalam dunia teologi. Tetapi melihat tren yang ada dalam perkembangan pengetahuan (penemuan-penemuan baru dari naskah-naskah kuno dan sifat publisitasnya yang gencar), tantangan Injili yang terbesar di abad ke-21 adalah menghadapi rancang bangun teologi liberal yang makin solid dan meluas. Salah satu usaha dari kelompok liberal ini adalah membuang semua unsur yang bersifat supernatural dalam kekristenan. Usaha yang paling nyata dilakukan oleh kelompok Yesus Seminar.

Yesus Seminar adalah kelompok para sarjana Alkitab liberal yang bergabung dengan satu tujuan yakni mengkaji keotentikan kitab-kitab Injil melalui penyelidikan ilmiah mengenai perbuatan dan perkataan Yesus.[29] Asumsi mereka adalah Injil tidak otentik kecuali jika dibuktikan terbalik.[30] Kesimpulan dari kelompok ini sangat mencengangkan. Menurut mereka, Yesus tidak pernah menuntut diri-Nya sebagai Mesias dan tidak bernubuat tentang akhir zaman. Ucapan Yesus pada malam perjamuan kudus dianggap sebagai rekaan para murid, dan doa bapa kami tidak diajarkan oleh Yesus melainkan disusun oleh para pengikut-Nya.[31] Kelompok ini semula terdiri dari 200 anggota tetapi berkurang menjadi 74 orang pada saat mereka mempublikasikan buku penelitian mereka The Five Gospels. Mereka dengan seksama memeriksa keempat Injil (termasuk juga Injil Thomas) dan berusaha menemukan autentisitas setiap perkataan Yesus.[32] Berbeda dengan edisi tradisional yang menggunakan warna merah untuk perkataan Yesus, kelompok Yesus seminar menggunakan empat warna. Jika itu berwarna merah, maka itu adalah perkataan Yesus. Merah muda berarti, kedengarannya seperti perkataan Yesus. Warna abu-abu artinya, itu mungkin perkataan Yesus. Sedangkan warna hitam artinya, telah terjadi kesalahan.[33]

Rancang bangun teologi liberal di abad ke-21 akan semakin mencari bentuk-bentuknya yang baru dan tentu saja semua usaha itu akan langsung menyerang inti Kekristenan yang selama ini bertahan hingga ribuan tahun yakni keilahian Yesus Kristus. Dengan dipadukannya berbagai disiplin ilmu seperti antropologi, sosiologi, sejarah dan penelitian ilmiah ke dalam ilmu teologi, maka tidak tertutup kemungkinan di abad ke-21 akan terjadi banyak gugatan yang lebih sistematis dengan bobot yang lebih besar terhadap isu-isu dasar kekristenan. Teologi liberal dapat menjelma di dalam berbagai forum dan sekolah-sekolah Alkitab untuk menghancurkan dasar kekristenan yang paling hakiki.

Hadirnya sejumlah Injil tersembunyi dalam ranah publik patut diwaspadai sebagai usaha teologi liberal yang tersamar dalam memberikan informasi menyesatkan kepada masyarakat yang selama ini menjadikan Alkitab sebagai pegangan satu-satunya terhadap kebenaran. Keberadaan buku-buku tersebut dapat menggoncang iman. Melihat berbagai tanda dan ciri perkembangan masyarakat modern di abad ke-21, maka dapat disimpulkan bahwa gugatan demi gugatan terhadap Alkitab dan kebenaran ilahi Yesus Kristus akan semakin mengkristal. Inilah tantangan utama bagi gereja agar umat Tuhan tidak terpengaruh oleh berbagai situasi tersebut dan tetap memegang teguh kepercayaannya.

Terdapat banyak kecenderungan dan perkembangan lain yang mungkin menjadi ciri rancang bangun teologi abad ke-21 tetapi paling tidak, empat analisis di atas dapat membuka wawasan kita mengenai bentuk teologi apa yang berkembang di zaman modern ini dan dapat membaca kemana arahnya. Melalui fenomena tersebut, gereja tentu saja dituntut untuk bersikap dan memposisikan diri.

Catatan Akhir

Dengan melihat kecenderungan di atas, muncul pertanyaan, bagaimana sebaiknya gereja membangun suatu rancangn bangun teologi di tengah berbagai tantangan dan derasnya konsekuensi akibat kemajuan zaman di abad ke-21.

Pertama, gereja perlu membangun kembali teologi Kristen abad ke-21 yang memberikan jawaban terhadap berbagai perkembangan dan kemajuan di dalam penelitian Alkitab. Dalam hal ini, gereja tidak perlu takut goncang ataupun terintimidasi. Fakta sejarah selalu membuktikan bahwa Allah ikut membela gereja-Nya dan itulah yang akhirnya membuat gereja bisa bertahan di sepanjang sejarah yang penuh dengan pergolakan. Jika pada masa-masa sebelumnya pernah terjadi usaha para bapa Apologetik membela imannya, maka tantangan kontroversial yang mengguncang iman Kristen di abad ke-21 ini hanya dapat dihadapi dengan kontruksi ajaran yang benar dan usaha untuk tetap berdiri di atas ajaran itu. Rancangan bangun teologi abad ke-21 memang menjadi sebuah kebutuhan mendesak yang perlu dipikirkan gereja supaya usaha menggarami dunia ini tidak terhambat dengan berbagai perkembangan yang justru bertolak belakang dari iman dan ajaran Kristen yang ada.

Kedua, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebuah rancang bangun teologi selalu disusun berdasarkan kebutuhan zaman. Maka kebutuhan zaman di abad ke-21 perlu diidentifikasi oleh teolog-teolog Injili supaya melalui rancangan bangun tersebut, teologi Injili dapat menjadi jawaban ditengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi dunia. Kini semua orang bisa menafsirkan Alkitab secara bebas dan bebas pula menggunakannya untuk kepentingan apapun. Bahkan semua orang bisa bebas untuk percaya Alkitab atau tidak. Melalui rancang bangun teologia abad ke-21, kekristenan akan dilahirkan dalam zaman yang serba post-modern ini sebagai satu-satunya jalan bagi kebahagiaan, kebenaran dan keselamatan. Munculnya agama-agama lain dan agama-agama alternatif sebagai ciri masyarakat modern jangan dianggap sebagai ancaman terhadap kekristenan. Justru melalui fenomena tersebut, kekristenan dapat memposisikan  dirinya sebagai satu-satunya teologi tahan uji yang membawa pada jalan keselamatan.

Ketiga, teologi yang muncul di abad ke-21 tidak lagi bersifat holistik. Juga tidak akan muncul teolog-teolog dunia seperti yang pernah terjadi masa sebelumnya. Yang bermunculan adalah teolog-teolog lokal yang terkonsentrasi untuk membahas isu-isu lokal. Untuk itu perlu dipersiapkan jalur formal yang memadai bagi para teolog lokal ini, misalnya melalui jalur pendidikan resmi, agar saat berteologi, mereka memiliki dasar pijakan yang kokoh dan tidak goyah menghadapi arus liberalisme dalam kekristenan.

Keempat, salah satu fenomena yang harus disikapi oleh teologi Kristen di abad ke-21 adalah kecenderungan manusia untuk mempertanyakan transendensi Allah dan sifat-sifat supernatural-Nya. Hal ini terjadi karena manusia sudah terkooptasi oleh kemajuan berpikir sainstik dan teknologi dan lebih berpusat pada dirinya sendiri. Usaha-usaha yang menggugat kekristenan akan menjadi agenda terpenting disepanjang abad ini. Maka gereja perlu merapatkan barisan dan tidak lagi terpecah di dalam denominasi sehingga bersaing memperebutkan jemaat.

Kelima, salah satu keberhasilan gereja mula-mula di zaman para rasul dan Bapa Apostolik adalah kuatnya mereka dalam memegang ajaran dan tidak bersandar pada pengertiannya sendiri. Inilah yang seharusnya menjadi landasan utama bagi penyusunan ajaran teologi abad ke-21, sebuah teologi yang membawa kita semua mendekat dan lebih dekat lagi pada-Nya. Seperti firman Tuhan ajarkan, dalam Yeremia  9:23-24, “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

DAFTAR PUSTAKA

Audi, Robert. The Cambridge Dictionary of Philosophy. United Kingdom: Cambridge University Press, 1999.

Avis, Paul. Ambang Pintu Teologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

Berkhoft, Louis. Teologi Sistematika 1: Doktrin Allah.  Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993.

Braaten, Carl E. And Robert W. Jenson. A Map of Twentieth Century Theology. Minneapolis: Fortres Press, 1995.

Brown, Colin. Filsafat dan Iman Kristen Jilid 1. Surabaya: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 2008.

Cairns, Earle E. Christianity Through The Centuries. Michigan: Grand Rapids, 1973.

Conn, Harvie M. Teologia Kontemporer. Malang: Literatur SAAT, 2008.

den End, Th. Van. Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987.

Drewes, B.F. dan Julianus Mojau, Apa Itu Teologi – Pengantar ke dalam Ilmu Teologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.

Enns, Paul. The Moody Handbook of Theology Jilid 2. Malang: Literatur SAAT, 2004.

Ferguson, Sinclair B., David F. Wright dan J.I. Packer, New Dictionary of Theology Jilid 2. Malang: Literatur SAAT, 2009.

Grenz, Stanley J. dan Roger E. Olson, 20th Century Theology – God and the world in a transitional Age. Illionis: InterVarsity Press, 1992.

Groothuis, Douglas. Jesus in an age of Controversy. Jakarta: Verbum Dei Books, 2008.

Hadden, Jeffrey K. & Anson Shupe (Eds.), Secularization and Fundamentalism Reconsidered: Religion and the Political Order. New York: Paragon House, 1989.

Hadiwijono, Harun. Pemikiran Reformatoris Abad ke-20. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2004.

Jacobs, SJ, Tom. Paham Allah Dalam Filsafat, Agama-agama dan Teologi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2002.

Jones, W.T. and Robert J. Fogelin. A History of Western Philosophy – The Twentieth Century to Quine and Derrida. Orlando: Harcourt Brace College Publishers, 1997.

Joseph, Lawrence E. Kiamat 2012 – Investigasi Akhir Zaman. Jakarta: Gramedia, 2009.

Kristiyano, Eddy (Ed). Konsili Vatikan II Agenda Yang Belum Selesai. Jakarta: OBOR, 2006.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1989.

Lane, Tony. Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2005.

Lukito, Daniel Lukas. Pengantar Teologia Kristen I. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, t.th.

Lukito, Daniel Lukas. “Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Abad 21 – Sebuah Kajian Retrospektif dan Prospektif” dalam Jurnal Teologi dan Pelayanan VERITAS, I No 1, April 2000, halaman 3-6.

Lumintang, Stevri Indra. Theologia Abu-Abu Pluralisme Agama. Malang: Gandum Mas, 2009.

Mulyanto, Kukuh. 2012 – Akankah Kiamat Benar Benar Terjadi? Yogyakarta: Pustaka Timur, 2009.

Schaeffer, Francis A. How Should We Then Live? Illionis: Crossway Books, 2005.

Smith, David L. A Handbook of Contempporary Theology.  Grand Rapids: Bakes Books, 1992.

Sudarmanto, Teologi Kontemporer, diktat kuliah di STT Tanjung Enim, t.th.

Tucker, Ruth A. Another Gospel – Berbagai Kepercayaan. Malang: Gandum Mas, 1989.

Tomatala, Y. Teologi Kontekstualisasi: Suatu Pengantar. Malang: Gandum Mas, 1993.

Wright, N.T. Who Was Jesus? Grand Rapids: William B. Eerdmans P.C., 1994.

Zaluchu, Sonny Eli. “Sumbangan Pemikiran John Dewey Dalam Pendidikan” dalam Jurnal Pasca Sekolah Tinggi Theologia Baptis Indonesia, Volume VI, Nomor 4, Oktober 2009.

[1] W.T. Jones and Robert J. Fogelin, A History of Western Philosophy – The Twentieth Century to Quine and Derrida (Orlando: Harcourt Brace College Publishers, 1997), 35.

[2] Buku yang sangat bagus menguraikan pragmatisme dalam falsafah masyarakat Amerika ditulis oleh Albertine Minderop, Pragmatisme Amerika (Jakarta: Obor, 2005).

[3] Aliran ini pertama kali tumbuh Di Amerika pada tahun 1878. Ketika itu Charles Sanders Pierce (1839 – 1914) menerbitkan sebuah makalah yang berjudul “How to Make Our Ideas Clear” dan mempresentasikannya dalam sebuah pertemuan Methaphysical Club di Cambridge, Massachusetts. Namun pragmatisme sendiri lahir ketika William James membahas makalahnya yang berjudul ”Philosophycal Conceptions and Practical Result” (1898) dan mendaulat Pierce sebagai Bapak Pragmatisme. Selanjutnya aliran ini makin berkembang berkat kerja keras dari William James dengan berbagai karya tulisnya. Karya tulisnya itu antara lain adalah, “A Pluralistic Essay”, “Essay in Radical Empiricism”, “The Will to Believe”, dan “The Varieties of Religious Experience”.

[4] Robert Audi (Ed.), The Cambridge Dictionary of Philosophy (United Kingdom: Cambridge University Press, 1999), 730.

[5] Sonny Eli Zaluchu, Sumbangan Pemikiran John Dewey Dalam Pendidikandalam Jurnal Pasca Sekolah Tinggi Theologia Baptis Indonesia, Volume VI, Nomor 4, Oktober 2009, halaman 38.

[6] Colin Brown, Filsafat dan Iman Kristen Jilid 1 (Surabaya: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 2008), 63.

[7] Aliran filsafat rasionalisme muncul pertama kali sebagai sebuah gerakan di daratan Eropa (kecuali Inggris). Tokoh-tokoh lain yang mengembangkan aliran ini adalah Spinoza (1632-1677), G.W. Leibniz (1646-1716) dan Blaise Pascal (1623-1662).

[8] Istilah ini berasal dari kata Yunani empeiria (=pengalaman) dan empeirikos (=berpengalaman). Sejak abad kesembilan belas dan seterusnya, kata itu telah dipergunakan untuk menunjukkan bermacam-macam filsafat yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Gerakan ini dimulai di Inggris hampir bersamaan dengan mulainya aliran rasionalisme di Eropa.

[9] Brown, Colin. Filsafat dan Iman Kristen, 63.

[10]Th. Van den End, Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), 7.

[11] Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1989).

[12] Tom Jacobs, SJ, Paham Allah Dalam Filsafat, Agama-agama dan Teologi (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2002), 77-79.

[13] Daniel Lukas Lukito, “Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Abad 21 – Sebuah Kajian Retrospektif dan Prospektif” dalam Jurnal Teologi dan Pelayanan VERITAS, I No 1, April 2000, halaman 3-6.

[14] Monisme adalah teori filsafat yang memandang bahwa segala sesuatunya pada dasarnya adalah satu. Monisme beranggapan bahwa tidak ada perbedaan antara Tuhan pencipta dan ciptaanNya. Ini menjadi dasar kepercayaan theistic yang kemudian di bawa kepada panteisme. Panteisme adalah paham  yang memandang Allah ada di dalam segala-galanya dan segala-galanya adalah Allah.

[15] Jacobs, Paham Allah, 78.

[16] Stanley J. Grenz dan Roger E. Olson, 20th Century Theology – God and the world in a transitional Age (Illionis: InterVarsity Press, 1992), 11.

[17] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani. (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2005), 197.

[18] Karel Dobbelaere, “The Secularization of Society? Some Methodological Suggestions”, dalam Jeffrey K. Hadden & Anson Shupe (Eds.), Secularization and Fundamentalism Reconsidered: Religion and the Political Order (New York: Paragon House, 1989), 27-44.

[19] Ibid., hal.38.

[20] Sekularisasi tentu saja berbeda dengan sekularisme. Pengertian yang sangat radikal dari sekularisme adalah sebuah upaya penolakan atau pengusiran agama dan pemikiran religius dari kehidupan manusia. Bahkan dapat mengarah pada usaha untuk menyangkal Tuhan seutuhnya (atheis). Pusat kehidupan sepenuhnya adalah dunia ini melalui akal budi manusia. Sekularisme menekankan pada usaha yang menggeser bahkan menyingkirkan Allah dari realitas kehidupan. Akibatnya, Allah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang ada, Allah menjadi sesuatu yang abstrak dan tak terjangkau; sebaliknya, segala sesuatu dianggap lahir dari proses alamiah, natural; atau, sebagai proses yang berlangsung dalam dunia ini, yang dapat dipahami secara rasional berkat kemampuan akal budi manusia yang melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bedanya dengan sekularisasi adalah posisi agama yang masih diakui walau tidak lagi mendapat peran publik. Sekularisasi tidak langsung menyangkal eksistensi Allah dan menginjinkan seseorang memeluk agamanya secara pribadi. Keyakinan seseorang melalui agamanya tidak boleh mencampuri berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat.

[21] Harun Hadiwijono, Pemikiran Reformatoris Abad ke-20 (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2004), 50.

[22] David L. Smith, A Handbook of Contempporary Theology (Grand Rapids: Bakes Books, 1992), 169-172.

[23] F.W. Nietzsche dalam salah satu bagian bukunya Die Frohliche Wissenschaft (“Ilmu Pengetahuan Yang Menggirangkan”) untuk pertama kalinya memproklamasikan mengenai ‘kematian Tuhan’. Di dalam bagian itu, Nietzsche menceritakan seorang gila yang berlari di pasar saat pagi cerah dengan membawa dian di tangannya sambil berseru-seru, “Aku mencari Tuhan! Aku mencari Tuhan!” Orang-orang menertawakannya dan balik bertanya, “Apakah Tuhan hilang atau tersesat seperti anak kecil? Apakah Ia bepergian atau berimigrasio?”. Orang gila itu melompak ke tengah-tengah mereka dan berteriak, “Tuhan binasa. Aku berkata kepadamu. Kita telah membunuhNya. Kamu dan aku”. Oleh karena orang-orang itu tidak mengerti apa yang dimaksudkannya, ia pergi mengembara ke gedung-gedung gereja di kota dan berteriak: “Apa gedung-gedung gereja ini, jika bukan makan dan nisan-nisan Tuhan?” Pokok pikiran Nietzsche dapat di selami dalam sebuah buku terbaru berjudul “Para Pembunuh Tuhan” yang diterbitkan oleh Kanisius (2009).

[24] Harun Hadiwijono, hal. 53-53.

[25] Ibid., hal 55.

[26] Lawrence E. Joseph, Kiamat 2012 – Investigasi Akhir Zaman (Jakarta: Gramedia, 2009), 14-15.

[27] Kukuh Mulyanto, 2012 – Akankah Kiamat Benar Benar Terjadi? (Yogyakarta: Pustaka Timur, 2009), 15.

[28] Sinclair B. Ferguson, David F. Wright dan J.I. Packer, New Dictionary of Theology Jilid 2 (Malang: Literatur SAAT, 2009), 65.

[29] Stevri Indra Lumintang, Theologia Abu-Abu Pluralisme Agama (Malang: Gandum Mas, 2009), 184-185.

[30] Hasil penyelidikan mereka diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Authentic Words of Jesus, The Five Gospel, What Did Jesus Really Say? Diterbitkan tahun 1993.

[31] N.T Wright, Who Was Jesus? (Grand Rapids: William B. Eerdmans P.C., 1994), 17-18.

[32] Metode yang mereka pakai untuk mengambil keputusan apakah sebuah ayat betul sebagai perkataan Yesus, sangat tidak ilmiah. Mereka melakukan pemungutan suara. Pertama, mengumpulkan ucapan-ucapan yang dianggap dari Yesus, kemudian dibagi dalam kategori, yaitu perumpamaan, aforisme, percakapan dan cerita-cerita mengandung ucapan Yesus. Ucapan yang pendek dianggap lebih asli. Kedua, mereka melakukan pemungutan suara oleh yang hadir. Jika asli maka diberi warna merah (nilai 3/75%), mungkin asli diberi warna merah muda (nilai 2/50%), mungkin tidak asli diberi warna abu-abu (nilai 1/25%) dan tidak asli sama sekali diberi warna hitam (nilai 0). Hasilnya, 82% ucapan yang dikatakan Yesus dalam Injil adalah tidak benar-benar diucapkan oleh-Nya.

[33] Robert Funk, Roy Hoover dan Jesus Seminar, The Five Gospels: The Search fot the Authentic Words of Jesus (New York: Macmillan Publishing Company, 1993), 37, seperti dikutip dalam Douglas Groothuis, Jesus in an age of Controversy (Jakarta: Verbum Dei Books, 2008), 17.

 
Leave a comment

Posted by on February 18, 2011 in Theology

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: