RSS

Tantangan Postmodernisme terhadap Finalitas Alkitab

18 Feb

Oleh : Dr. Sonny Eli Zaluchu, M.A. M.Th

Dipublikasikan dalam JURNAL PASCA, Sekolah Tinggi Theologia Baptis Semarang, Volume 7/No. 2/Oktober 2010 halaman 96-107

Pendahuluan

Gugatan terhadap finalitas Alkitab tidak akan pernah selesai. Selama manusia masih mengandalkan rasio dan kemampuan nalarnya dalam melakukan kajian atau analisa terhadap seluruh Alkitab, selama itu pula, kebenaran-kebenaran yang ada didalamnya akan selalu dipertanyakan. Sekaligus hal ini merupakan peluang dan tantangan. Disebut peluang karena, pasti Alkitab akan kembali membuktikan dirinya bahwa ia merupakan buku dari segala buku (the book of books) yang tidak pernah lekang oleh waktu, selalu

mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan satu-satunya kitab yang menuntun pada jalan kebenaran. Kebenarannya tidak terbantahkan. Gugatan terhadap finalitas Alkitab justru akan mengokohkan kredibilitas Alkitab itu sendiri. Dengan demikian, orang-orang yang bersandar pada kebenaran yang ada didalamnya akan memiliki peluang membuktikan bahwa apa yang mereka yakini itu, benar adanya dan reliable. Sekaligus memberi tantangan apologetik yang menjelaskan bahwa Alkitab bukan saja memiliki pertanggungjawaban teologis, melainkan dapat diungkap kebenarannya dari sudut pandang sejarah, geografi dan arkeologi. Tantangan semakin keras mengingat, zaman selalu mencatat adanya penemuan-penemuan terbaru, yang lahir dari kajian pemikiran manusia tentang eksistensi, temuan arkeologi bahkan perkembangan dinamis dalam arus teologi. Semuanya itu menimbulkan sejumlah tanda tanya yang berujung pada satu pertanyaan tunggal, “Apakah Alkitab itu benar?” Werner Keller, yang mencoba melakukan riset sejarah dan arkeologi mengenai Alkitab akhirnya tiba pada satu kesimpulan dengan mengatakan, The Bible is right after all.[1]

Berbeda dengan kesimpulan Keller, biblical research yang dilakukan oleh sejumlah sarjana Alkitab di bawah pimpinan Robert Funk[2] justru menggugat validitas dan reliabilitas Alkitab. Dalam pandangan kelompok ini, kesimpulan Keller justru dipertanyakan. Para sarjana ini mengkhususkan diri di dalam kajian Perjanjian Baru dan menyebut diri Jesus Seminar. Mereka meringkas bahwa apa yang dikatakan Injil sebagai perkataan Yesus, banyak yang patut dipertanyakan. Hasilnya adalah, Injil yang ada sekarang hanya memuat sedikit sekali perkataan Yesus yang otentik. Selebihnya, diragukan kebenarannya. Bagian-bagian yang otentik itu ditandai dengan warna merah.[3] Dalam temuan Jesus Seminar, banyak bagian-bagian Injil yang dipertanyakan kebenarannya dan dianggap sebagai karangan belaka. Bahkan kelompok ini merendahkan keilahian Yesus dengan mengangkat asumsi bahwa Yesus bukanlah wahyu Allah yang eksklusif. Dia tidak lebih daripada salah seorang perantara hal-hal yang sakral.[4]

Dua contoh pandangan di atas menjadi alat bukti untuk menyimpulkan bahwa Alkitab di dalam perkembangannya, selalu mengalami gugatan di dalam kewibawaannya. Padahal, kewibawaan Alkitab sebagai firman Allah yang memiliki kebenaran mutlak, yang tidak bisa ditambah dan dikurangi, itulah yang disebut sebagai finalitas Alkitab. Para pemikir dan pengkaji Alkitab yang melihat buku tersebut dalam sudut pandang berbeda, pasti akan menghasilkan sikap dan kesimpulan yang juga berbeda satu dengan lainnya. Memperlakukan Alkitab sama dengan teks-teks dari buku sastra dan kesejarahan tentu akan berbeda hasilnya jika Alkitab dipandang sebagai buku yang memiliki otoritas ilahi dalam hal penulisan, pesan dan keberadaannya.

Finalitas Alkitab

Finalitas Alkitab tidak dapat didefenisikan terbatas pada satu pengertian saja melainkan mencakup keseluruhan eksistensi Alkitab. Uraian singkat berikut ini membeberkan maksud dari finalitas tersebut.

a. Kesatuan yang Utuh

Naskah asli dari Alkitab sudah tidak ditemukan lagi. Penyusunan Alkitab modern yang saat ini ada, sesungguhnya berasal dari berbagai terjemahan dan salinan yang ada yang dekat dengan sumber-sumber aslinya. Terjemahan kitab suci Yahudi yang paling awal dikenal dengan nama Septuaginta (atau LXX) yakni terjemahan dari bahasa Ibrani ke Yunani.[5] Terjemahan ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan orang Yahudi di seluruh dunia yang sudah tidak bisa lagi berbicara bahasa Ibrani. Terjemahan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi terjemahan sesudahnya, terutama Vulgata (terjemahan dalam bahasa Latin).[6] Sedangkan teks-teks PB berasal dari beribu macam manuskrip yang berasal dari abad ke-4 dan 5 M. Tetapi ada juga penggalan papirus dari abad ke -2 dan ke-3 M. Manuskrip yang lain terdiri dalam perkamen yang dijilid dalam bentuk buku.[7] Walaupun berasal dari salinan yang ada, tidak berarti bahwa hal tersebut mengurangi kredibilitasnya sebagai kitab suci yang akurat. Sebab, masing-masing salinan tersebut dapat dibandingkan satu dengan lainnya.

Gambaran di atas memperlihatkan bahwa sebagai buku yang ditulis oleh lebih dari satu penulis dan ditulis pada zaman yang berbeda-beda, Alkitab menjadi unik. Conner mengatakan, keragaman Alkitab sangat jelas karena ditulis oleh sekitar 40 penulis berbeda, terdiri dari 66 kitab berbeda yang ditulis lebih dari masa 1600 tahun.[8] Para penulisnya berasal dari latar belakang budaya, karakter dan zaman yang berbeda. Tetapi hasil karya mereka akhirnya menjadi satu kesatuan yang utuh yang saling menunjang dan saling melengkapi satu sama lain. Itulah sebabnya, Alkitab tidak dilihat sebagai buku yang bisa direkonstruksi berdasarkan masing-masing bagian menurut penulis atau kitab, melainkan dilihat secara utuh sebagai karya yang berkesinambungan satu dengan lainnya.

b. Kanon Alkitab

Alkitab hadir di dalam bentuknya yang sekarang karena telah disusun dan disempurnakan menjadi sebuah buku melalui sebuah kanon. Kanon terjadi dua kali, yakni kanon PL dan kanon PB. Kata kanon berasal dari kata Yunani kanoon yang pengertiannya merujuk pada satu keseluruhan yang sudah final, yang tidak bisa ditambahkan lagi. Asal katanya berarti tongkat besi yang lurus yang digunakan sebagai alat pengukur. Menurut Bruggen, kata kanon baru dipakai pada untuk Alkitab ketika sudah ada kepastian bahwa Kitab-kitab Suci telah lengkap sebagai kumpulan, dan ketika orang berusaha menjaga agar kumpulan itu tidak kemasukan tulisan yang lain yang tidak tergolong didalamnya.[9] Dengan demikian disimpulkan, dalam pemakaiannya terhadap Alkitab, maka kata ini merujuk pada kitab yang sudah dianggap standard, diterima dan berwibawa sebagai firman Allah yang tidak boleh ditambah atau dikurangi lagi.

Kanon Alkitab akan memberikan kepada kita wawasan tentang bagaimana ke-66 kitab sebagai isi PL (39 kitab) dan PB (27 kitab), dipandang dan diterima sebagai kitab-kitab suci, yang jumlahnya tidak lebih atau kurang daripada itu. Proses kanon ini sangatlah rumit dan lama. Butuh waktu untuk melakukan pengujian bagi masing-masing kitab untuk menjadi bagian standard Alkitab yang berwibawa. Keberadaannya bukan oleh keputusan manusia, konsili ataupun gereja tetapi dituntun oleh Roh Kudus. Melalui tuntunan tersebut, maka hanya buku-buku yang benar sajalah yang diterima sebagai bagian dari Alkitab. Roh Kudus ikut membimbing para rabi Yahudi, Bapa Gereja dan umat Kristiani mula-mula untuk menetapkan standard manakah di antara puluhan bahkan ratusan manuskrip yang ada dan beredar di tengah jemaat sebagai firman Allah yang sejati. Kritik yang umumnya ditujukan terhadap kanon ini berpusat pada pembatasan kanon yang dianggap hanya sebatas tulisan yang beredar saja pada waktu itu. Bahkan Wahono mengatakan bahwa tulisan tersebut ‘asal pilih’ saja, sebab keadaan pada zaman itu ikut menentukan. Buku-buku yang tidak hilang dan dirasakan perlu oleh jemaat waktu itu cenderung lolos dalam seleksi.[10] Asumsi tersebut membuat Alkitab kehilangan otoritasnya sebagai firman Allah. Argumen itu ditolak tegas oleh Bruggen yang mengatakan bahwa, penghentian perluasan kanon bukanlah dilakukan oleh gereja. Tuhan melakukan pembatasan terhadap nabi-nabi yang membawa suara-Nya dan bahkan membatasi diri-Nya sendiri untuk hanya memberikan kewibawaan-Nya kepada generasi para rasul dan para penatua mula-mula.[11]

Inspirasi dan Inerrancy Alkitab

Alkitab sebagai firman Allah adalah salah satu pokok penting yang menjadi kunci mengapa Alkitab disebut memiliki otoritas ilahi. Berbeda dari buku sastra karya manusia, Alkitab adalah firman Allah yang diinspirasikan kepada manusia, melaluinya Allah secara pribadi menyatakan diri-Nya kepada ciptaan-Nya.[12] Berdasarkan hal itu, Alkitab bukan hanya sekedar catatan tentang penyataan atau pewahyuan melainkan penyataan/pewahyuan itu sendiri. Itu sebabnya dikatakan bahwa Alkitab adalah pesan Allah dalam bentuk tertulis dan memiliki otoritas yang dinyatakan didalamnya.[13]

Untuk bisa sampai dalam bentuknya yang tertulis, penyataan khusus Allah tersebut melalui sebuah proses yang disebut pengilhaman (inspiration) melalui para penulis dengan pertolongan Roh Kudus. Pengilhaman bukan hanya konsep, melainkan setiap kata yang digunakan untuk mengungkapkan konsep tersebut.[14] Menurut Lewis, Roh Kudus bukan saja mengarahkan kepribadian si penulis, tetapi kerangka konseptual dalam pikiran dan juga tulisannya.[15] Oleh sebab itulah maka dikatakan Alkitab tidak dapat salah (innerant). Menurut Tindas, pengilhaman secara menyeluruh melalui Roh Kudus terhadap setiap bagian Alkitab, berarti bahwa keakuratan-nya terjamin sehingga tiap bagian Alkitab tak dapat keliru dalam hal kebenaran dan menentukan dalam hal kewibawaan ilahi.[16]

Kendati demikian, sifat inerrancy Alkitab ini tidak begitu saja diterima secara luas dikalangan teolog, terutama mereka yang menganut faham liberal dengan high criticism-nya.[17] Kalangan ini menilai bahwa Alkitab tidak jauh berbeda dengan buku-buku lain dan isinya tidak semuanya mengandung firman Allah, sehingga perlu diteliti lebih lanjut manakah  yang benar-benar merupakan firman Allah dan mana yang tidak. Pendekatan demikian dikenal sebagai kritik historis. Menurut Linnemann, kritik historis dilatarbelakangi oleh keraguan terhadap Alkitab sehingga perlu diperiksa kembali kebenarannya. Keraguan itu tercipta karena telah muncul banyak perubahan dalam hal sosial, politik, perkembangan ilmu pengetahuan dan pengaruh filsafat.[18] Metodologi kritik ini dimulai dengan pra-anggapan negatif yaitu meragukan Alkitab sebagai firman Allah, sampai bisa dibuktikan kemudian. Pendekatan para teolog penganut faham ini berpijak pada keragu-raguan. Bagian-bagian Alkitab akan dibuang kalau tidak dapat dijelaskan secara rasional. Akibatnya, derajat Alkitab sebagai buku yang berwibawa dan berisi firman Allah, direndahkan. Alkitab menjadi objek kritik dan penelitian sejarah, sebab bagi kritik historis, Alkitab adalah buku yang sedikit berbeda dan bahkan tidak lebih suci dari buku-buku lain. Kemunculan kritik historis ini tentu saja menjadi tantangan bahkan dapat menjadi sebuah ancaman bagi pengajaran Alkitab yang benar dan kehidupan iman orang percaya. Maka untuk menghadapi hal-hal semacam ini perlu ditekankan kembali bahwa sifat inerrancy Alkitab itu sesungguhnya tidak berasal dari manusia. Alkitab membuktikan dirinya sendiri bahwa dirinya berwibawa dan memiliki otoritas Ilahi.[19] Semuanya itu sudah final.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa finalitas Alkitab mencakup empat hal utama yakni kesatuannya sebagai sebuah buku yang tidak boleh diganggu-gugat, atau dipilah-pilah; bagian-bagian penyusunnya sudah final (tidak boleh ditambah atau dikurangi lagi); kebenarannya yang mutlak (ketaksalahan Alkitab); dan sifat kewibawaan ilahi (otoritas) atas segala hal yang tercatat didalamnya. Sebagai sebuah buku yang merupakan penyataan Allah dan menjadi penyataan itu sendiri, Alkitab tidak memiliki peluang untuk dipertanyakan oleh manusia. Sebab, pesan yang dibawanya adalah sebuah kebenaran mutlak.

Postmodernisme

Postmodernisme adalah sebuah reaksi dan kritik atas modernisme dan lahir untuk mengantisipasi semakin lemahnya budaya Barat di dalam menanggapi kompleksitas persoalan ekonomi, sosial, budaya, politik dan seni. Para pemikir mulai jenuh dengan “kotak-kotak” yang dibangun modernisme melalui rasionalitasnya dan dianggap sudah usang atau telah menjadi tradisional. Kegagalan ini terjadi karena kerangka berpikir modern amat menekankan pada konstruksi-konstruksi baku yang tidak boleh diganggu gugat. Hal ini dianggap tidak sejalan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan beragam yang dibungkus dalam semangat kebebasan berpikir. Kebenaran rasional yang selama ini dipakai sebagai tolak ukur di dalam menilai segala sesuatu dianggap diskriminan dengan menyingkirkan unsur-unsur kebenaran lain. Maka, Arnold Toynbee pada tahun 1875, memunculkan istilah post-modern untuk menjelaskan berakhirnya era dominasi pola pikir Barat yang rasionalistik itu ditengah menguatnya budaya non barat dan keingin tahuan orang untuk mencari jawaban-jawaban alternatif yang selama ini terpinggirkan.

Postmodern melahirkan banyak hal yang bukan saja gagasan-gagasan baru tetapi mengadopsi pemikiran-pemikiran marjinal atau yang selama ini ditolak, menjadi sebuah kebenaran baru yang perlu dikaji. Modernisme yang selama ini memegang teguh prinsip homogenitas, tunggal, tertata dan keteraturan digugat dengan menerima cara pandang yang beranekaragaman, heterogenitas, dan gagasan-gagasan baru yang lahir dengan membongkar “bangun teori” yang lama. Postmodernisme bahkan berani menerima dan membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan yang selama inin ditolak oleh pola pikir modernisme. Hal-hal yang selama ini ditolak di dalam postmodernism diterima sebagai sebuah pemikiran alternatif. Kemapanan yang dibangun oleh modernisme, terbuka dirombak dan disusun kembali dalam wajah yang baru dan ragam yang kuat, yang oleh Derrida disebut sebagai dekonstruksi.[20] Dalam pola ini segala sesuatu menjadi dinamis dan temporar. Tidak ada kebenaran yang absolut. Konstruksi apapun yang dibangun dapat diruntuhkan, dihancurkan dan dibangun kembali dalam wajah yang baru. Jika dekonstruksi diterapkan di dalam hermenetik, maka teks dan konteks sebagai natur hermenetik digantikan oleh penafsiran subjektif pembaca. Pendekatan ini dikenal dengan istilah sinkronik, teks dilihat sebagai cermin dimana penafsir melihat dirinya bersamaan dengan dan di dalam teks. Artinya, penentu makna dalam teks bukan lagi teks melainkan pembacanya. Kritik ini dikenal juga dengan nama reader respon criticism.[21]

Konsep Derrida mengenai dekonstruksi adalah membongkar, melakukan analisis struktur, memperhatikan sistem, mengamati bagaimana membangunnya, mencari inti kekuatan yang menyanggah bangunan itu kemudian menggesernya hingga terbebas dari orotitas sistem.[22] Konsep ini jelas sekali bertujuan menggugat kemapanan. Menurut Norris, istilah itu merujuk pada dua hal, yaitu: pertama, kecurigaan terhadap rasionalitas sebagai pegangan utama modernitas karena dianggap mengandung unsur kekuasaan sehingga perlu dibongkar kembali; dan kedua, sikap mau mendengar kembali (will) semua bentuk-bentuk pemikiran marjinal yang dianggap tidak rasional, tabu, oleh modernitas. Dekonstruksi beranggapan bahwa kemungkinan terdapat kebenaran-kebenaran sejati dibalik hal-hal yang selama ini terpinggirkan.[23] Itulah sebabnya, penekanan utama postmodernisme adalah penggantian (replacement) kemampuan intelektual dengan kehendak (will), rasionalitas (reason) oleh emosi (emotion) dan moralitas (morality) oleh relativitas (relativism). Gerakan pemikiran yang lahir akhir abad 19 ini memahami realitas tidak lebih dari sebuah konstruksi sosial dimana kebenaran menjadi sama dengan kekuasaan. Identitas berubah dari personal menjadi kelompok. Metodologinya adalah fragmentasi, ketidakpastian bahkan ketidakpercayaan terhadap semua bentuk worldview yang selama ini universal. Kebenaran menjadi relatif karena postmodernisme mengatakan tidak ada kebenaran universal yang berlaku untuk semua orang. Sebaliknya, setiap individu akan terkunci ke dalam perspektif terbatas ras mereka sendiri, jenis kelamin atau kelompok etnis tertentu.[24]

Tantangan-tantangan Utama

Berdasarkan uraian singkat tentang postmodernisme atas, terlihat dengan jelas bahwa pemikiran dan metodologi dari pemikiran postmodern ini dapat membawa masalah yang sangat serius jika digunakan untuk memahami finalitas Alkitab. Mengapa dan dalam bentuk apa masalah itu akan muncul?

Pertama, postmodernisme adalah gagasan post-strukturalisme yang lahir sebagai “bayi” sekularisme modern. Menurut Klein, gagasan postmodernisme terhadap kebenaran adalah jamak. Pemikiran ini mendukung ideologi pluralisme dimana tidak ada satu agama atau cara pandang (worldview) yang mengandung kebenaran mutlak.[25] Hal ini tentu saja menggugat hakikat Alkitab sebagai sebuah kebenaran dan satu-satunya kebenaran mutlak. Dalam pandangan ini, Alkitab diperlakukan sama dan sederajat dengan kitab-kitab lain dan tidak eksklusif diterima sebagai satu-satunya penyataan khusus Allah kepada manusia. Padahal menurut Erickson, Alkitab adalah buku yang berbeda karena Alkitab mencakup baik kehadiran Allah sendiri maupun kebenaran yang menginformasikan tentang diri-Nya.[26] Tentu saja sebagai buku yang merupakan penyataan khusus Allah, Alkitab memiliki wibawa dan otoritas. Postmodernisme justru menggugat kebenaran mutlak akan kewibawaan dan otoritas Alkitab tersebut.

Kedua, pendekatan postmodernisme terhadap teks, sangat bertentangan dengan natur utama hermenetik yaitu eksegesa. Pendekatan hermenetik postmodernisme bukanlah teks atau konteks melainkan apa yang menjadi pikiran atau wawasan pembaca saat membaca teks Alkitab. Metodologi ini membuka ruang yang selebar-lebarnya untuk rekontekstualiasi, sesuatu yang sangat berbahaya dan membelokkan kebenaran menurut kemauan penafsir, yang oleh Lim disebut hermeneutical pitfalls.[27] Mengapa disebut berbahaya, karena penafsir hanya akan memperlakukan teks Alkitab sebagai kumpulan dari ide-ide manusia belaka dan menolaknya sebagai ide Allah yang diinspirasikan kepada manusia. Mengapa hal  ini terjadi? Kembali kepada pemikiran Derrida, konsepnya tentang Allah telah mengalami dekonstruksi. Arti Allah bagi Derrida menurut salah seorang komentator, John D. Caputo dalam Deconstruction in a Nutshell, adalah sesuatu “Yang Lain”, maksudnya Allah dapat disebut dengan nama lain seperti “keadilan, keramahan, kesaksian, anugerah dan demokrasi. “Karena Allah adalah nama yang lain, tiap yang lain, tidak peduli siapa.”[28]

Ketiga, dekonstruksi sebagai salah satu natur dari postmodernisme memberikan ruang untuk membongkar struktur dan membentuknya kembali dengan menerima hal-hal marjinal. Tentu saja hal ini tidak dapat diterima dalam konteks finalitas kanon Alkitab. Kitab, ayat dan isi Alkitab sudah selesai dan tidak dapat dikurangi atau diganggu gugat. Demikian juga dengan kebenaran yang diberitakannya baik di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru. Tidak ada hal yang perlu dipertanyakan lagi. Bahaya dari dekonstruksi adalah sikapnya yang terbuka untuk menerima kebenaran di luar struktur dan dianggap sebagai hal yang mungkin lebih benar dibandingkan yang selama ini diyakini benar. Jika ini diterapkan terhadap Alkitab, maka hal itu sama saja dengan arti menolak kanon, menerima surat-surat yang pernah ditolak oleh kanon dan menolak kebenaran yang diungkap di dalam kanon resmi. Maka tidaklah mengherankan, di abad 21, berbagai pemikiran sebagai produk dekonstruksi mengalir sebagai arus yang kuat. Penerimaan terhadap konsep alternatif mulai muncul. Beberapa penerbit mulai secara konsisten mempublikasikan naskah-naskah kuno yang dulu dianggap sebagai bidat oleh Bapa-bapa Gereja. Naskah-naskah “alternatif” itu kemudian disandingkan sebagai upaya dekonstruksi terhadap finalitas kanon Alkitab.

Penutup

Jika muncul pertanyaan, kemanakah arah dari postmodernisme ini di dalam merekonstruksi kebenaran-kebenaran Alkitabiah? Sangat mudah ditebak, manusia akan di bawa ke dalam satu tatanan baru dimana Allah yang transeden itu dihilangkan dan digantikan dengan simbol-simbol baru yang imanen di tengah-tengah kehidupan manusia, yang dekat dengan kehidupan sosial mereka. Postmodernisme tentu saja tidak mengakui Alkitab sebagai kebenaran mutlak, apalagi finalitasnya. Tatanan baru ini mengarahkan pada masyarakat pluralistik dengan satu agama baru tanpa Tuhan didalamnya (a new religion without God). Ketika masyarakat membentuk agama tanpa Tuhan, maka alkitab mereka adalah apa yang mereka pikiran dan sepakati secara berkelompok sesuai dengan identitas khas masing-masing.

Serangan semacam ini bukanlah hal baru dan mengejutkan di dalam dunia kekristenan. Tetapi harus diakui, kendatipun pokok ajarannya berbeda dan bertolak belakang, baik postmodernisme maupun kekristenan, akan selalu berjalan paralel. Itulah yang menjadi tantangannya. Di tengah dunia yang semakin sekuler, justru kekristenan harus bertahan hidup dan tetap di dalam keasinannya melalui orang-orang yang dengan gigih membela iman dan apa yang dipercayainya. Kekristenan kontemporer memiliki sifat apologetik yang kuat, sesuatu yang kini mulai terkikis. Maka peringatan di dalam Matius 5:13 patut direnungkan kembali. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang (Mat 5:13). Postmodernisme akan berusaha dengan kuat membuat “garam” itu menjadi tawar. Satu-satunya jawaban bagi tantangan ini adalah membangun satu apologetik yang kuat bahwa Alkitab memang dan selamanya tetap sebagai firman Allah yang hidup, kebenaran-nya mutlak dan isinya diinspirasikan oleh Allah. Sebab memang demikian adanya.

Daftar Pustaka

Bruggen, Jacob van. Siapa Yang Membuat Alkitab. Surabaya: Momentum, 2008.

Conner, Kevin J. Pedoman Praktis Tentang Iman Kristiani. Malang: Gandum Mas, 2004.

Donnel, Kevin O. Postmodernisme. Yogyakarta: Kanisius, 2009.

Erickson,Millard J. Teologi Kristen Volume Satu. Malang: Gandum Mas, 2004.

Geisler, Norman dan Ron Brooks. Ketika Alkitab Dipertanyakan. Yogyakarta: Andi, 2006.

Groothuis, Douglas. Jesus In An Age of Controversy. Eugene, OR: Wipf and Stock Publishers, 1996.

Holmes, Arthur. Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah. Surabaya: Momentum, 2000.

Keller, Werner. The Bible As History. New York: William Morrow and Company, Inc., 1982.

Kewuel, Hipolitus K. Allah dalam Dunia Postmodern. Malang: Penerbit Dioma, 2004.

Klein,William W., Craig L. Blomberg and Robert L. Hubbard, Jr.,  Introduction to Biblical Interpretation. Nashville: Thomas Nelson Publishers, 2004.

Linnemann, Eta. Teologi Kontemporer. Malang: PPII, 2006.

Lim, Johnson T.K. Hebrew, Hermeneutics and Homiletics: Collected Works with New Essays and Sermons of Johnson T.K. Lim. Hongkong: ABGTS Publication, 2010.

Norris, Christopher. Deconstruction: Theory and Practice. London: Menthen, 1992.

Taylor, Victor E. and Charles E. Winquist (Ed.), Encyclopedia of Postmodernism. London: Routledge, 2001.

Thiessen, Henry C. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 2008.

Tindas, Arnold. Inerrancy – Suatu Kajian Induktif dengan Pendekatan Tekstual – Gramatikal – Historikal. Jakarta: HITS, 2005.

Wahono, Wismoady. Disini Kutemukan . Jakarta: BPK, 2000.


[1] Ungkapan ini diletakkannya pada kata pengantar bukunya berjudul The Bible As History (New York: William Morrow and Company, Inc., 1982). Hasil bible investigation Keller tersebut telah terjual 10 juta kopi lebih dan diterjemahkan dalam 24 bahasa. Penjelasan-penjelasan Keller mengenai pembuktian Alkitab secara history dan arkeologi dalam buku itu, patut menjadi bahan apologetika penting.

[2] Pemimpin dan juru bicara Jesus Seminar.

[3] Jesus Seminar memiliki empat metode warna di dalam menyorot  perkataan-perkataan Yesus di dalam Injil. Warna merah berarti, “itu perkataan Yesus.” Warna merah muda berarti, “itu kedengarannya seperti perkataan Yesus.” Warna abu-abu berarti “Itu mungkin perkataan Yesus.” Sedangkan warna hitam artinya, “telah terjadi kesalahan”. Kelompok ini bahkan telah mencetak Alkitab versi mereka sendiri yang diberi nama The Five Gospel.

[4] Douglas Groothuis, Jesus In An Age of Controversy (Eugene, OR: Wipf and Stock Publishers, 1996), 19.

[5] Terjemahan ini diambil dari versi Masoretes, yakni sekelompok ahli Yahudi yang bekerja antara tahun 500 – 1000 M, yang menambah huruf-huruf vokal pada teks Ibrani, yang sampai saat ini, terdiri dari huruf konsonan. Untuk menambah kemurnian teks kuno, para ahli ini menambah tanda-tanda baca di atas dan di bawah baris-baris tulisan sehingga tidak mengganggu teks. Karya ini dapat diuji dengan membandingkannya pada beberapa gulungan seperti gulungan Laut Mati.

[6] Dikerjakan oleh Hieronimus pada tahun 382 M.

[7] Istilah codex berasal dari bahan-bahan papirus yang terjilid ini. Sumber yang terkenal adalah Codex Sinaiticus yang ditemukan di sebuah biara di kaki gunung Sina’i dan Codex Vaticanus yang berasal dari abad ke-4 M.

[8] Kevin J. Conner, Pedoman Praktis Tentang Iman Kristiani (Malang: Gandum Mas, 2004), 81.

[9] Jacob van Bruggen, Siapa Yang Membuat Alkitab (Surabaya: Momentum, 2008), 7.

[10] Wismoady Wahono, Disini Kutemukan (Jakarta: BPK, 2000), 17-18.

[11] Bruggen, Siapa Yang, hal., 80.

[12] Penyataan Allah ada dua yakni penyataan umum dan penyataan khusus. Penyataan umum berlaku untuk semua ciptaan tanpa melihat apakah dia termasuk orang percaya atau bukan. Bentuk penyataan ini adalah melalui ciptaan, alam, pemeliharaan, manusia dan sejarah; melaluinya Allah dikenal sebagai penguasa atas segala ciptaan di dunia. Tetapi penyataan khusus adalah tindakan Allah secara pribadi berbicara kepada ciptaanNya. Penyataan ini dinyatakan melalui firman yang hidup yakni Yesus Kristus dan firman yang tertulis yakni Alkitab.

[13] Baca Ibrani 1:1 dan 2 Petrus 1:21.

[14] Norman Geisler dan Ron Brooks, Ketika Alkitab Dipertanyakan (Yogyakarta: Andi, 2006), 169-171.

[15] Gordon R. Lewis, “The Human Authorship of Inspired Scripture” dalam Norman L. Geisler (Ed.), Inerrancy (Michigan: Zondervan, 1980), 251.

[16] Arnold Tindas, Inerrancy – Suatu Kajian Induktif dengan Pendekatan Tekstual – Gramatikal – Historikal (Jakarta: HITS, 2005), 157.

[17] Kritik terhadap Alkitab dikenal dalam dua bentuk yakni kritik rendah dan kritik tinggi. Kritik rendah – kritik teks, naskah – usaha mendapatkan ‘bunyi’ yang asli dengan membanding-bandingkan naskah salinan yang ada. Kritik tinggi –  kritik sumber atau kritik sastra, menyangkut bentuk dan redaksi (yang dalam alur liberal dikenal dengan kritik historis) .

[18] Eta,Linnemann, Teologi Kontemporer (Malang: PPII, 2006), 106-132.

[19] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika (Malang: Gandum Mas, 2008), 70.

[20] Victor E. Taylor and Charles E. Winquist (Ed.), Encyclopedia of Postmodernism (London: Routledge, 2001), 84-86.

[21] William W. Klein, Craig L. Blomberg and Robert L. Hubbard, Jr.,  Introduction to Biblical Interpretation (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 2004), 73.

[22] Hipolitus K. Kewuel, Allah dalam Dunia Postmodern (Malang: Penerbit Dioma, 2004), 89.

[23] Christopher Norris, Deconstruction: Theory and Practice (London: Menthen, 1992), 126.

[24] Baca selengkapnya tulisan uraian tentang postmodernisme dan dekonstruksi yang ditulis oleh Bill Crouse berjudul Deconstructionism: The Postmodern Cult of Hermes” di link http://www.christianinformation.org/article.asp?artID=73

[25] Klein, dkk., Introduction, 71.

[26] Millard J. Erickson, Teologi Kristen Volume Satu (Malang: Gandum Mas, 2004), 315.

[27] Johnson T.K. Lim, Hebrew, Hermeneutics and Homiletics: Collected Works with New Essays and Sermons of Johnson T.K. Lim (Hongkong: ABGTS Publication, 2010), 210.

[28] Kevin O. Donnel, Postmodernisme (Yogyakarta: Kanisius, 2009), 134.


 
Leave a comment

Posted by on February 18, 2011 in Theology

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: