RSS

BELAJAR BENCANA DARI JEPANG

17 Mar

Artikel Opini –  Dimuat di Suara Pembaruan 17 Maret 2011 halaman 5

Sungguh berat beban pemerintah Jepang. Tiga bencana sekaligus melanda negeri matahari terbit itu secara berturut-turut; gempa bumi, tsunami dan yang sekarang heboh,  bocornya radiasi nuklir PLTN. Melihat banyaknya korban jiwa serta kerugian akibat bencana yang bergiliran datang, mau tidak mau kita berpikir satu hal. Seandainya Jepang adalah negara dengan ‘kesadaran bencana’ terendah di dunia, pasti bencana itu menelan korban jiwa yang lebih besar lagi, bahkan dibarengi dengan kerusuhan sosial dan instabilitas dalam negeri. Tetapi apa yang dilakukan pemerintah Jepang, meskipun mengakui menghadapi situasi yang berat, adalah sebuah teladan bagi kita. Negara itu baik-baik saja. Dengan sigap, seluruh elemen di dalam negara, mendukung usaha penyelamatan, restorasi dan pencegahan. Pemerintah dan masyarakat terlihat bahu membahu, melakukan segala usaha untuk melindungi korban dan mencegah hal yang lebih buruk terjadi. Tidak terdengar komentar dari kelompok oposisi yang mencoba menyalahkan pemerintah atas situasi yang sedang terjadi. Usaha terbaik sudah mereka lakukan. Ketika alam tetap ‘bertindak’ tidak ada hal lain yang bisa dilakukan kecuali menghadapinya dengan tabah.

SADAR BENCANA

Jamak diketahui bahwa pemerintah Jepang termasuk salah satu pemerintah terbaik di dunia yang sadar akan bencana alam. Geografis kepulauan dan letak negara itu di daerah sabuk api telah menempatkan seluruh masyarakat Jepang siap sedia menghadapi gempa bumi, tsunami dan segala dampak domino akibat kedua fenomena alam tersebut, tiap saat. Kesadaran mereka tentang bencana dan segala akibatnya sangat tinggi. Sehingga pada waktu berncana berlangsung, tidak ada gejolak sosial dan politik yang signifikan.

Hal ini dimulai dari sikap pemerintah yang sangat concern terhadap keselamatan warganya. Langkah pertama adalah mempersiapkan infrastruktur yang tahan gempa atau paling tidak meminimalisasi kehancuran. Semua bangunan di sana dirancang dalam konstruksi tahan gempa. Makanya rumah-rumah di Jepang pada umumnya terbuat dari kayu, aluminium dan dinding kertas. Semua dari bahan-bahan ringan, sehingga sewaktu gempa berlangsung, bangunan rumah tidak runtuh menimpa warga. Kesiapan seperti ini patut dijadikan contoh oleh negara-negara yang rawan bencana seperti Indonesia. Sebab selama ini, kebijakan pembangunan yang memihak alam atau yang sadar bencana, baru dilakukan setelah bencana terjadi dan korban jiwa berjatuhan. Rencana pemerintah membangun saluran lahar dingin Merapi setelah lahar dingin dari gunung itu ternyata menjadi bencana pasca erupsi beberapa waktu lalu adalah sebuah contoh. Demikian juga dengan tindakan pembenahan sistem saluran air setelah sebuah lokasi dihantam banjir. Dan banyak lagi contoh lainnya dimana pembangunan infrastruktur dan kebijakan yang meresponi fenomena alam, dilakukan belakangan, setelah peristiwa terjadi.

Pembelajaran dari pemerintah Jepang bukan hanya soal infrastruktur yang sarat dengan perencanaan matang dan pertimbangan resiko alam. Bahkan, values terhadap bencana dan resikonya, telah tertanam di dalam benak masyarakat. Hal inilah yang membuat seluruh elemen masyarakat siap sedia dan terlihat matang dalam menghadapi resiko terburuk. Konsekuensinya jelas. Masyarakat menjadi mandiri dan sedapat mungkin mengurangi ketergantungan dari pemerintah. Kerjasama negara dengan rakyat berjalan amat baik. Masyarakat tidak gegabah menyalahkan pemerintah karena mereka sadar bahwa pemerintah dan seluruh aparatur negara sudah melakukan yang terbaik.

MENGUTAMAKAN KESELAMATAN WARGA

Pembelajaran yang luar biasa diperlihatkan Jepang kepada kita adalah tindakan  pemerintah yang sangat care terhadap keselamatan warganya. Hal semacam ini masih sulit dijumpai di banyak negara yang justru menjadikan warganya menjadi korban kebijakan dan ketidakpedulian pemerintah.

Demi membangun kesadaran bencana di dalam diri warga, mereka dibiasakan ikut di dalam pelatihan evakuasi bencana. Melibatkan siswa SD hingga pemimpin pemerintahan, aktif mengikuti dan memberi contoh untuk simulasi tersebut. Dengan demikian, saat bencana berlangsung, warga tidak panik dengan dengan tenang mengikuti prosedur standar yang telah berkali-kali mereka ikuti. Mereka tahu persis harus melakukan apa dan pergi kemana. Salah satu penyebabnya adalah masuknya mata pelajaran bencana alam sebagai salah satu kurikulum wajib di sekolah-sekolah Jepang. Bahkan kesiapan moral terlihat disetiap rumah. Dekat pintu dan gampang terjangkau,  sudah tersedia satu ransel berisi bahan makanan kering, alat-alat penunjang hidup, obat-obatan, alat komunikasi serta sejumlah kebutuhan darurat lainnya, yang siap dibawa pergi jika suatu saat mereka diharuskan mengungsi dengan cepat.

Kepedulian pemerintah terhadap warga negaranya patut diacungi jempol. Bukan seperti yang terjadi di Indonesia ketika tsunami melanda Mentawai, seorang pejabat negara mengatakan bahwa itu adalah kesalahan warga sendiri yang memilih tinggal di pesisir pantai. Dalam peristiwa tsunami beberapa waktu lalu di pantai Miyagi, sama sekali tidak ada pejabat Jepang yang menyalahkan rakyat karena memilih tinggal di pesisir pantai. Pemerintah justru aktif memberikan penyuluhan mengenai cara-cara evakuasi di daerah-daerah rawan bencana tersebut. Sosialisasi informasi mengenai kondisi bencana dan situasi terkini mengalir dengan deras. Tidak ada informasi yang disembunyikan oleh pemerintah. Justru keran informasi tentang daerah rawan bencana, dibuka selebar-lebarnya sehingga masyarakat bisa mempersiapkan diri dengan baik.

Sistem peringatan dini terhadap bencana gempa dan tsunami berjalan dengan baik dan hasilnya dengan cepat terdistribusi kepada masyarakat. Melalui informasi yang akurat, warga lebih siap dan antisipatif sehingga jumlah korban dapat diminimalkan. Kesadaran bencana di kalangan warga Jepang juga terlihat dari sikap mereka yang mementingkan keselamatan umum. Kejadian pencurian, pengrusakan dan kerusakan alat-alat deteksi bencana seperti terjadi di Indonesia tidak pernah terjadi di sana karena penduduk sadar, alat itu dapat memberikan informasi mengenai keselamatan hidup mereka sendiri. Secara rutin, alat-alat itu dipelihara dan tidak ditinggalkan begitu saja sebagai proyek yang terbengkalai.

PENUTUP

Jadi kalau mau menilai sebuah pemerintahan sadar bencana atau tidak, manajemen pembangunan di negara itu dapat dijadikan rujukan, apakah sadar lingkungan atau tidak. Jika negara itu tidak sadar lingkungan dan justru mengeksploitasi alam untuk kepentingan ekonomi, maka kesadaran bencana pemerintahannya juga rendah. Rujukan lain yang tak kalah penting adalah kepedulian para pemimpin dan masyarakat di dalam negara itu terhadap keselamatan umum. Jika mereka menjadi terlalu egois dan hanya mementingkan diri sendiri, maka dipastikan negara semacam itu tidak siap menghadapi bencana melalui langkah terbaiknya. Oleh sebab itu, bencana di Jepang dan cara negara itu menghadapinya adalah tantangan bagi sejumlah negara rawan bencana, termasuk Indonesia, tentang mitigasi bencana terbaik.

Penanganan bencana yang selama ini dilakukan di banyak negara masih tergolong impulsif (tindakan pasca bencana). Hal-hal yang bersifat mencegah atau menekan angka korban jiwa jarang dilakukan. Bahkan banyak pemerintah terjebak di dalam usaha karitatif – terlihat menolong sewaktu bencana terjadi kemudian kabur begitu bencana usai dan recovery biarlah menjadi urusan masing-masing warga negara. Memang bencana alam tidak bisa dicegah tetapi fenomena alam dapat diprediksi melalui tanda-tanda yang ditampilkannya. Mitigasi bencana terbaik selalu mencakup tiga hal, seperti dilakukan di Jepang, antisipasi bencana alam, penanganan bencana alam dan recovery pasca bencana. Ketiganya integratif dan komprehensif di dalam setiap kebijakan yang diambil pemerintah. Ketiga hal itu patut kita tiru di Indonesia, sebagai salah satu negara rawan bencana. Pemerintah kita harus memprioritaskan hal tersebut daripada ribut melulu memperdebatkan kekuasaan dan kepentingan politik. ***

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2011 in News Paper Opinion

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: