RSS

Buku Baru: BIBLICAL THEOLOGY

17 Mar

 

Judul Buku:

BIBLICAL THEOLOGY

Sub Judul Buku :

Pembahasan Metodologi dan Pendekatan Biblika

Dalam Membangun Teologi PL dan PB

Dimensi : 14 x 21 cm

ISBN: 978-602-98881-0-2


PRAKATA

Pdt. Petrus Maryono, Ph.D

Ketua STII Yogyakarta

Buku teologi biblika karya asli anak negeri masih langka. Karena itu, kita patut menyambut dengan ucapan syukur kehadiran Biblical Theology, karya Dr. Sonny Zaluchu, MA, MTh ini. Tampilnya karya ini akan mengisi kekosongan yang sejak lama menanti dan sangat mendesak untuk diisi.

Berbagai aspek terkait dengan disiplin teologi biblika dibahas dalam buku ini. Pembahasan mengenai definisi dan landasan teologi biblika mengawali penulisan. Ditegaskan, teologi biblika lahir dari penggalian cermat (eksegesis) teks Kitab Suci. Pada gilirannya, teologi biblika menyediakan bahan bagi disiplin ilmu teologi lainnya (dogmatika, sistematika, bahkan historika). Teori yang menarik, meskipun sejarah telah menjadi saksi dari kebalikan terhadap ideal yang diuraikan tadi. Bukankah teologi biblika sebenarnya lahir, i.e., sebagai koreksi, kemudian tandingan, sebelum akhirnya berkembang menjadi disiplin ilmu mandiri, setelah teologi dogmatika menjadi bagian hidup gereja selama berabad-abad?

Penulis mengawali tinjauan mengenai sejarah dan perkembangan disiplin teologi biblika dengan menarik mundur ke era awal sejarah gereja, meski kemudian ditegaskan bahwa  tampilnya tokoh-tokoh J. S. Semler, J. P. Gabler dan lainnya sangat mempengaruhi corak dan perkembangan lanjut disiplin ilmu ini. Mengapa? Oleh pengaruh karya-karya mereka, teologi biblika berkembang sejalan dengan semakin dominannya teknik tafsir historis-kritis, serta berada di bawah bayang-bayang pengaruh filsafat sekuler sebagai bidan penolong persalinan ilmu teologi pada umumnya. Teologi biblika, seperti halnya ilmu teologi pada umumnya, nampaknya seperti telah ditentukan untuk tidak akan pernah mampu melepasakan diri dari kedua pengaruh itu. Keadaannya semakin menonjol khususnya dalam perkembangan teologi-teologi kontemporer.

Berangkat dari keyakinan bahwa biblika adalah buah studi cermat terhadap Alkitab, penulis menyediakan dua pasal terakhir buku ini untuk membahas masalah kanon dan teknik tafsir yang harus diterapkan. Sebelum itu, ia memperkenalkan juga berbagai metode yang telah dipakai untuk mengembangkan teologi biblika (PL dan PB). Agak menarik, karena untuk pendalaman teologi PL penulis menyarankan dua tema (penebusan dan perjanjian/covenant), sebagai sarana. Untuk PB, setelah menganalisi model yang ditawarkan G. Hasel (metode tematik, eksistensialis, historis, dan sejarah keselamatan), G. Osborne, dan lainnya, penulis menutup diskusi “metodologi teologi PB” dengan membahas pendekatan yang dipakai oleh P. Enns, yang disebut “pendekatan kombinasi kompleks,” dengan lima ciri yang menandainya (perkembangan wahyu, Kristosentris, keutuhan ajaran PB, keragaman tulisan PB, dan pendekatan analitis-tematis).

Pemanfaatan sumber-sumber penting, karya tokoh-tokoh bereputasi internal, menandai proses penyiapan materi maupun diskusi dalam buku. Pembahasan mencakup berbagai topik penting dan mendasar dalam disiplin teologi biblika. Penulis melakukan pembahasannya berangkat dari penghargaan tinggi terhadap Kitab Suci, sambil berpegang kepada keyakinan teologi Injili. Ciri tersebut memberi nilai tersendiri terhadap kegunaan buku ini.

Dengan mempertimbangkan semuanya itu, buku ini memang layak menempati perpustakaan lembaga-lembaga pendidikan teologi, dan sangat disarankan untuk menjadi bacaan wajib dalam matakuliah Teologi Biblika. Di atas segalanya, karya ini menjadi sumbangan amat berharga bagi pengembangan ilmu teologi di negeri ini.

Dr. Bambang Sriyanto

Direktur Program Pasca Sarjana STBI Semarang

Usaha manusia untuk mengenal Allah tidak pernah terhenti dari waktu ke waktu. Berbagai cara telah manusia lakukan untuk menemukan kesejatian dalam hidup, namun sisi kosong dalam diri manusia itu tidak akan terpuaskan oleh apa-pun kecuali oleh pengenalan dan kehadiran  Allah, Sang Pencipta.  Perkembangan teologi sebagai disiplin ilmu telah menjadi cermin kegigihan usaha manusia untuk mengenal penciptanya.

Teologi dalam perkembangannya bergerak dalam berbagai arah sehingga muncul berbagai macam aliran dan pandangan yang berbeda-beda di masa kini. Mempertimbangkan teologi macam apa yang akan dipegang, kita memerlukan pemahaman mendalam tentang teologi yang mendasarkan bangunannya pada pondasi yang murni.  Teologi Biblika adalah kajian ilmu teologi yang dibangun menggunakan material murni yaitu Alkitab, dan hanya Alkitab saja.  Sebuah langkah maju dalam hal pengkayaan keilmuannya adalah hadirnya buku Biblical Theology, tulisan Dr. Sonny Zaluchu. Tulisan tersebut memberikan dasar-dasar tentang metodologi dan pendekatan teologi biblika sebagai salah satu disiplin ilmu. Kejenuhan para pemula yang belajar  teologi  karena pembahasaan filosofinya, dapat dikurangi dengan berbagai skema penjelasan dan runtutan alur pikir yang sistematis. Kedua hal tersebut akan mempermudah para pembaca untuk memahami esensi dari teologi biblika. Hal menarik lainnya adalah usaha penulis untuk melihat kesatuan Alkitab dan keterpaduan tema tentang Perjanjian Allah dengan Umat-Nya.

Semoga buku ini menginspirasi para pembaca untuk menggali Firman-Nya dengan lebih sungguh-sungguh, sehingga kita dapat melihat karya Allah dan kesungguhan hati-Nya untuk  memperkenalkan diri dan dikenal oleh umat-Nya secara pribadi. Selamat menikmati karya menarik ini yang memacu kita untuk mendapat pemahaman teologia yang semakin dalam dan mengalami Allah yang sesungguhnya. Tuhan memberkati.

Pdt. Dr. Daniel Ronda

Ketua STT Jaffray Makassar

Kajian biblika di Indonesia dalam dasawarsa terakhir ini semakin menurun dan kalaupun masih ada, dapat dikatakan berdiri sendiri-sendiri dan hanya sporadis. Sudah mulai jarang sekali pertemuan para sarjana biblika yang membicarakan isu-isu dan pengembangan teologi biblika di Indonesia. Tentu tidak berarti tidak ada sama sekali, namun masih belum berkala dan terencana dalam pengembangannya. Bahkan jurnal-jurnal biblika yang ada pun terbitannya mulai kembang kempis dan susah untuk diharapkan berkembang, sekalipun jurnal itu diterbitkan sekaliber Lembaga Alkitab Indonesia. Lagi-lagi tiadanya atau lebih tepatnya jarang ada penulis yang berminat menekuni kajian biblika ini. Ahli-ahli biblika yang tenar di Indonesia sudah mulai hilang dari panggung studi ini.  Bahkan penulis pun sempat menanyakan kepada pimpinan sekolah teologi ternama di Jakarta di mana ada sekolah yang memiliki studi biblika yang solid dan mapan, dia pun agak tertegun dan lama menjawabnya. Masing-masing sekolah teologi hanya punya satu atau dua saja, dan lainnya terpisah-pisah di masing-masing denominasinya.  Sekalipun saat ini ada mencoba mengangkat pamor kajian biblika, maka kajiannya pun masih mengikuti isu-isu yang berkembang di Barat seperti soal “DaVinci Code”, “Isu Seputar Naskah Laut Mati”,  atau soal katanya ditemukan makam keluarga Yesus dan Yesus diduga termasuk ditemukan dalam makam itu. Isu reaksioner itu tentunya menambah kegairahan kajian biblika di Barat, yang tadinya hanya di seminari-seminari sekarang menjadi pembahasan publik secara meluas termasuk mendapat liputan media tv dan majalah serta surat kabar. Kedatangan tokoh-tokoh ahli biblika dari Barat dalam memberi seminar di Indonesia nampaknya akan memberi harapan agar tumbuh kajian biblika. Namun ketika isi pembahasan hanya seputar isu yang berkembang di Barat, kita pun akhirnya hanya bisa menjadi pendengar yang baik.

Syukur buku Dr. Sonny Zaluchu mencoba mengatasi kekeringan dan kerinduan akan kajian biblika untuk pembaca di Indonesia. Kajian ini sangat dibutuhkan mengingat fondasi biblika para pemimpin umat boleh dikatakan masih lemah. Khotbah-khotbah yang ada umumnya sangat pragmatis dan bahkan ada yang mengikuti fondasi berpikir para motivator yang tidak berlatar belakang Alkitab sama sekali. Bahkan begitu banyak buku-buku rohani Kristen, di mana ayat-ayat firman Tuhan dan kajian tentang biblikanya amat dangkal dan terkesan hanya tempelan belaka. Untuk mendapat legitimasi biblika dan rohani, banyak pengkotbah dan penulis hanya menyebutkan sepintas saja bagian-bagian firman Tuhan.

Pada sisi lain banyak buku yang mencoba mengkaji biblika secara mendalam tidak mendapat tempat di hati pembaca secara luas, dikarenakan terlalu ilmiah dan menjelimet sehingga menjadi membosankan. Tentu ada juga kotbah yang begitu tekun akan kajian biblika sehingga lupa bahwa  dia berhadapan dengan pendengar di abad ke-21 yang berbeda kondisi dan situasinya. Kondisi ini diperparah karena tiadanya pemahaman akan kegunaan kajian biblika dalam konteks gereja masa kini.

Melihat isu-isu dan dilema di atas terutama relevansi kajian biblika bagi pembaca dan pendengar masa kini, di mana seharusnya masalah ini dituntaskan?  Saya merasa bahwa sekolah teologi adalah tempat yang paling tepat untuk membahas kajian biblika yang mendalam. Sekolah teologi membutuhkan kajian serta buku-buku yang mendalam soal teologi biblika. Sebagai dosen pengajar teologi biblika, saya sungguh menyambut gembira tulisan Dr. Sonny. Ada beberapa hal yang membuat kita perlu menyambut dan menghargainya: pertama, kajian dasar tentang definisi dan metologi teologi biblika dibahas kembali dalam bahasa yang lebih baru sehingga para pembaca dan mahasiswa teologi generasi kini bisa dengan mudah mengikuti pembahasan ini. Bila tidak ada buku ini, tentu kita harus berjibaku menemukan dari berbagai sumber tentang dari mana memulai studi teologi biblika dan bagaimana melakukannya. Syukur buku ini mencoba menyederhanakan kajian yang tadinya begitu rumit dan masing-masing dengan tradisinya dapat dipersatukan dalam tulisan ini. Kedua, kajian ini komprehensif walaupun dapat dikatakan singkat, di mana membahas juga metodologi PL dan PB disatukan dalam buku ini. Biasanya para pakar biblika di Barat sangat mengkhususkan diri dalam keahlian sehingga kalau kita mau mendalami kajian biblika, maka kita akan ditanya mau PL atau PB? Kalau PB, mau yang mana, Injil Sinoptik atau Paulus, dan seterusnya? Untunglah, buku ini mencoba menyarikan dan menyederhanakan secara komprehensif seluruh kajian biblika dari PL dan PB. Tentu bila tertarik kepada studi lanjutan teologi biblika, maka paling tidak buku ini berjasa mengantar ke arah itu. Ketiga, buku ini mempertahankan Alkitab sebagai firman Allah. Ini sudah dipertahankan dalam segala abad dan Dr. Sonny menegaskan kembali bahwa studi Alkitab tidak boleh mengorbankan Alkitab itu sendiri. Kritik teks seharusnya menjadi sarana pembuktian kebenaran Firman Allah dan bukan sebaliknya. Ketika keabsahan Alkitab dipertanyakan, maka studi biblika harus lebih aktif menjawab isu-isu yang muncul dengan fondasi Alkitab adalah kebenaran. Itu sebabnya saya sungguh merekomendasikan buku ini agar dipakai di sekolah teologi dan juga kepada pembaca yang sungguh berminat akan Alkitab dan segala kebenarannya. Kiranya ada buku lanjutan yang muncul setelah kemunculan buku ini di publik dan adanya kegairahan akan studi Alkitab di Indonesia.

Kata Pengantar Penulis

Teologi Biblika (Biblical Theology) adalah salah satu disiplin ilmu teologi yang berdiri sendiri tetapi memiliki peran yang signifikan di dalam membentuk  berbagai disiplin ilmu lainnya dalam lingkup teologi. Tujuannya sederhana yakni menciptakan sebuah kerangka pikir teologi menurut Alkitab dan mengungkap teologi seperti apa yang terkandung didalamnya. Disiplin ini berusaha mengangkat ke permukaan apakah yang menjadi God’s grand design di dalam kehidupan manusia, dimulai dari kitab Kejadian hingga Wahyu dalam Alkitab. Dengan demikian, teologi biblika menerima Alkitab sebagai satu-satunya sumber informasi dan selalu menempatkan buku ini sebagai firman Allah yang berwibawa dalam satu kesatuan yang utuh, mulai dari PL hingga PB.

Bukan pekerjaan yang mudah untuk membangun atau menemukan teologi menurut para penulis Alkitab. Sejarah telah membuktikan bahwa berbagai pendekatan telah dilakukan, mulai dari metode paling konservatif hingga ke pendekatan liberal. Tetapi tidak semua karya yang dihasilkan benar-benar setia kepada Alkitab. Banyak karya teologi biblika justru dibangun di dalam paham yang menerima Alkitab sebagai buku kesusasteraan kuno yang bisa direkonstruksi kembali dan dilepaskan dari sifatnya yang ilahi. Semuanya ini berakar dari satu soal yakni pendekatan atau metodologi di dalam mempelajari atau memandang Alkitab. Harus disadari bahwa pendekatan yang dipilih untuk memahami atau mempelajari Alkitab, sangatlah menentukan bentuk teologi apa yang dihasilkan dari Alkitab. Betapa pentingnya sebuah metodologi ! Menyadari hal itu, buku ini disusun sebagai usaha untuk meramu metodologi di dalam keilmuan teologi biblika secara sistematis dalam semangat kesetiaan kepada Alkitab sebagai firman Allah yang utuh, berwibawa dan tak dapat salah.

Hal lainnya adalah kebutuhan. Buku tentang disiplin teologi biblika masih sangat susah ditemui. Sumber sumber tentang teolobi biblika yang beredar lebih banyak membicarakan tema-tema di dalam Alkitab daripada kerangka kerja dan pendekatan. Untuk memenuhi tujuan itulah, buku ini hadir. Diharapkan, mahasiswa dan pengajar STT memiliki acuan di dalam mempelajari cara kerja teolobi biblika di dalam membangun teologi yang Alkitabiah.

Buku ini disusun di dalam tujuh bagian. Dua bab pertama meletakkan dasar mengenai teologi biblika. Defenisi, kedudukan teologi biblika di dalam hubungannya dengan disiplin ilmu teologi lainnya, sudut pandang keilmuan, dan metodologi diuraikan di dalam bab pertama. Sedangkan sejarah lahirnya teologi biblika sebagai sebuah disiplin ilmu dan karya serta teolog yang terlibat didalamnya dijelaskan secara komprehensif di dalam bab dua. Dari dua bab tersebut diharapkan pembaca sudah memiliki gambaran mengenai apakah sebetulnya yang menjadi tujuan dan bagaimana cara kerja disiplin ini di dalam membangun teologi yang Alkitabiah. Pada bab berikutnya, diberikan uraian desktiptif yang lebih terfokus mengenai berbagai pendekatan di dalam membangun teologi dari PL (bab tiga) dan PB (bab lima). Dua tema penting di dalam teologi PL yakni rencana penebusan Allah (redemptive) dan perjanjianNya dengan manusia (covenant) dibahas secara khusus di bab empat. Melalui pembahasan ini, pembaca dapat memilki gambaran mengenai bagaimana teologi biblika menemukan hal-hal penting di dalam tema tersebut. Dua bab terakhir adalah soal Alkitab. Teologi biblika bekerja dengan memandang Alkitab sebagai sumber utama dan satu-satunya. Dalam kerangka disiplin ilmu ini, Alkitab dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkesinambungan dari PL hingga PB. Berbagai prinsip penting tentang kesatuan Alkitab itu dijelaskan di bab enam. Sedangkan bab terakhir berisi mengenai sikap dan pandangan teologi biblika di dalam menghadapi berbagai bentuk kritik Alkitab yang terbukti amat mempengaruhi cara pandang para teolog di dalam membangun teologinya. Tentu saja terdapat ketidaksempurnaan di dalam buku ini yang diharapkan dapat diperbaiki kelak pada edisi keduanya. Sumbangan pemikiran dari pembaca untuk menjadikan buku ini lebih baik lagi secara teologis dan keilmuan, sangat diharapkan.

Ucapan terima kasih yang tidak terhingga pertama kali ditujukan kepada pihak STBI Semarang – secara khusus Dr. Sentot Sadono — yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk mengampu mata kuliah ini di kelas pascasarjana; bahkan itulah yang mendorong penulis terpacu menyelesaikan naskah buku ini. Tetapi dorongan yang luar biasa penulis dapatkan dari Dr. St. Priyantoro Widodo selaku kolega dan mentor yang jeli di dalam supervised teaching sehingga buku ini hadir secara utuh di tangan pembaca sekalian. Terima kasih juga kepada Dr. Petrus Maryono (Ketua STII Jakarta), Dr. Daniel Ronda (Ketua STT Jaffray Makasar) dan Dr. Bambang Sriyanto (Direktur Pascasarjana STBI), yang telah menulis prakata, membaca bahkan mengkritisi buku ini supaya menjadi lebih baik lagi dan memenuhi kebutuhan.

Akhirnya, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36).

Graha Padma, Semarang 2011

Sambutan-sambutan

Johnson Lim (PhD., University of Queensland)

Lecturer of Asia Baptist Graduate Theological Seminary.

Bible scholar, author and lecturer

Dr. Sonny Zaluchu has written an indispensable book on Biblical Theology. Biblical theology is a subset of Christian theology that deals with  the Bible from a  perspective of the progressive revelation of God to humankind beginning from Genesis to Revelation. It seeks to understand how theology within its historical framework as the Bible reveals it.  He has done an excellent job in covering quite comprehensively a wide spectrum of inter-related topics. For those who need a clear and quite comprehensive introduction to biblical theology, this is a good book to begin with. This is one book that will serve as a helpful resource for anyone. Everyone should have a copy in his library.

I highly recommend this useful and needful book to all theological students, theologians and  pastors. Indeed, I am happy to see an Asian writer writing for Asians. May God raise more Asian writers. My congratulations to Dr. Sonny Zaluchu  for a book well researched and written.

Dr. Rubin Adi Abraham
Ketua Departemen Teologi dan Pendidikan Sinode GBI

Ketua STT Kharisma Bandung

Buku tentang Teologi Biblika apalagi yang ditulis oleh teolog Indonesia masih sangat langka, sehingga buku ini sangat dibutuhkan bukan hanya untuk dosen dan mahasiswa sekolah teologi namun juga untuk semua umat Tuhan yang ingin belajar mengenai teologi. Saya merekomendasikan buku ini untuk menambah wawasan Anda.

Dr. Chrysostomos P. Manalu, M.Th

Ketua STT Paulus Medan

Buku-buku yang bernafaskan “Biblika” masih langkah di Indonesia, apalagi penulisnya orang Injili. Jikalaupun ada, masih bisa dihitung dengan jari. Penulis buku ini adalah sahabat saya dan mengenalnya dengan baik. Oleh sebab itu, saya merekomendasikan buku ini sebagai ‘buku pelajaran’ Biblika yang dapat dijadikan acuan dalam memahami pendekatan Alkitabiah dalam membangun teologi. Buku ini dapat menjadi sumbangan yang sangat berarti bagi gereja Tuhan dan para mahasiswa serta pengajar Sekolah Tinggi Theologia pada khususnya.

Dr. Natanael S. Prayogo, M.A

Ketua STT Harvest Semarang

Buku ini patut disambut, bukan saja mencerahkan tetapi menjawab kebutuhan. Topik yang dibahas didalamnya dapat menjadi pegangan utama yang menuntun mahasiswa atau pengajar, di dalam proses belajar mengajar, tentang Teologi Biblika. Saat ini, buku-buku untuk topik yang sama masih langka diperoleh di rak-rak toko buku di Indonesia. Membaca buku ini akan mengarahkan dan membangun anda untuk berteologi di dalam perspektif Alkitab.

Dr. Dolf  Tiyono, M.Th

Ketua STT El-Shadday Surakarta

Buku Teologi Biblika karya penulis merupakan hasil permenungan dan pembelajaran teologi yang layak dibaca oleh mahasiswa STT, gembala-gembala sidang bahkan orang awam sekalipun. Penulisnya adalah orang yang saya kenal ulet, inovatif dan suka belajar. Saya merekomendasikan buku ini sebagai salah satu acuan pembelajaran dalam keilmuan biblika.

Ricky D. Montang, M.Th, D.Min

Dosen Biblika UKIP Sorong – Papua

Buku ini adalah salah satu panduan yang signifikan membahas tentang disiplin ilmu Teologi Biblika. Pembahasan yang penulis lakukan cukup dalam dan komprehensif. Itulah sebabnya buku ini layak dikoleksi oleh kalangan teolog dan dapat dijadikan buku sumber belajar untuk mata kuliah Teologi Biblika.

Dr. Samuel Sianto

Ketua STT Yestoya Malang

Saya menyambut buku ini sebagai suatu sumbangsih penulisnya dalam merumuskan sistematika Teologi Biblika sebagai sebuah disiplin ilmu yang fokus pada metodologi.  Membaca buku ini akan memberi kita gambaran bagaimana cara kerja Teologi Biblika di dalam membangun teologi dari Alkitab. Buku ini juga membekali para mahasiswa STT untuk memiliki worldview biblika dalam membangun teologinya. Saya percaya buku ini akan menambah dan memperdalam wawasan  pembacanya.

DAFTAR ISI

Halaman Persembahan

Prakata

Kata Pengantar

Sambutan-sambutan

Daftar Isi

Bab 1 – TEOLOGI BIBLIKA

Sudut Pandang Teologi Biblika

Teologi Biblika dengan Disiplin Lain

Metodologi Teologi Biblika

Eksegesa dalam Teologi Biblika

Bab 2 – SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TEOLOGI BIBLIKA

Munculnya dalam Sejarah

Proses menjadi Disiplin Ilmu

Perkembangan dan Tantangan Abad 18-19

Tantangan di Akhir Abad 19 dan Abad 20

Bab 3 – METODOLOGI DAN TEOLOGI PL

Pergulatan Menentukan Tema

Metodologi Perjanjian Lama

Konklusi

Bab 4 – TEMA PENEBUSAN DAN COVENANT DI DALAM TEOLOGI PL

Penebusan (Redemption)

Perjanjian (Covenant)

Konklusi

Bab 5 – METODOLOGI DAN TEOLOGI PERJANJIAN BARU

Deskriptif dan Normatif

Beberapa Pendekatan Metodologi PB

Bab 6 – TEOLOGI BIBLIKA DAN KESATUAN ALKITAB

Kanon Alkitab

Inspirasi dan Innerancy Alkitab

Perjanjian Lama versus Perjanjian Baru

Unsur-unsur Kesinambungan PL dan PB

Konklusi

Bab 7 – BIBLICAL CRITICISM DAN TEOLOGI BIBLIKA

Persoalan Seputar Naskah

Biblical Criticism

Beberapa Jenis Kritik Alkitab

Theological Hermeneutics

Konklusi

DAFTAR PUSTAKA

Tentang Penulis

 

Bab 5

Metodologi dan Teologi Perjanjian Baru

Pendahuluan

Sebuah teologi PB dalam kerangka Biblical Theology, adalah teologi yang juga harus dibangun, disusun dan bersumber semata-mata dari bahan-bahan PB. Sebagai sebuah disiplin ilmu, teologi PB datang lebih dini jika dibandingkan peranan teologi PL di dalam teologi biblika. Bahkan sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri, teologi PB baru muncul pada awal abad XIX sebagai dampak menguatnya gerakan pencerahan yang sangat menekankan kekuatan berpikir manusia sebagai pisau bedah analisis dan pemikiran dalam kajian-kajian filsafat dan ilmu pengetahuan. Dalam gerakan ini, manusia dan kemampuan akaliahnya menjadi ukuran standar. Dalam bidang teologi, pengaruh gerakan ini sangat terasa. Pengakuan bahwa Alkitab diinspirasikan oleh Allah dan menjadi sebuah penyataan ilahi yang mengandung otoritas, digugat dan dipikirkan kembali. Dalam pemahaman ini, Alkitab (PL dan PB) direndahkan kualitasnya menjadi sama dengan buku-buku karya sastra lainnya. Gerakan ini semakin mendapat tempat ketika metode historis-kritis mengambil alih pendekatan hermenutik. Pengaruhnya menjalar kemana-mana. Kesatuan PL dan PB ikut digugat. Otoritas Alkitab dipertanyakan dan muncul usaha-usaha penelitian Alkitab yang akhirnya mengarah pada kesimpulan yang mendukung gugatan terhadap Alkitab. Apa yang diajarkan Alkitab tidak bisa dianggap begitu saja sebagai firman Allah. Dalam situasi demikianlah, teologi PB muncul di permukaan. Salah satu titik tolaknya adalah keluarnya karya G.L Bauer di Jerman yang terdiri dari empat seri teologi PB.

Di tengah gempuran terhadap kredibilitas Alkitab, Teologi PB hadir untuk mengamati pemisahan antara apa yang deskirptif (yang diajarkan oleh para penulis PB) dengan apa yang normatif (apa yang menjadi refleksi PB bagi kehidupan masa kini). Dalam catatan Ferguson, hingga akhir abad XIX, hampir semua pembahasan di dalam teologi PB lebih cenderung disajikan deskriptif daripada normatif.[1] Pendekatan yang dipakai di dalam penyejian deskriptif itu adalah menggali konsep doktrinal apa yang disajikan oleh para penulis PB, kemudian membandingkannya dengan para penulis yang lain di dalam PB terutama dalam persamaan dan perbedaannya. Tujuan akhir metode ini adalah ‘sebuah kesimpulan’ mengenai konsep-konsep tersebut. Inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan tematis, yang akan banyak diulas di dalam bab ini.

Persoalan yang pada umumnya mengemuka tentang sebuah teologi PB, adalah kapan bahan-bahan di dalam PB tersebut menjadi deskriptif dan kapan menjadi normatif. Apalagi jika dibandingkan dengan ajaran-ajaran Yesus yang hampir semua memuat hal-hal yang normatif. Maka dalam perkembangan selanjutnya, banyak dari para teolog ‘memperdebatkan’ hal ini melalui sejumlah karya dan argumentasi mereka yang akan terlihat melalui perjalanan sejarah terbentuknya disiplin ilmu teologi PB. Selain pertentangan antara deskriptif dan normatif, pokok yang paling utama mengemuka soal teologi PB adalah masalah pendekatan. Pada umumnya banyak teolog yang membangun teologi PB dengan pendekatan kritik (criticism). Presuposisi yang ada di dalam pendekatan kritik adalah melihat PB sebagai bagian literatur biasa yang bahkan tidak memiliki otoritas sebagai tulisan suci yang telah dikanonkan. Otoritas kitab suci ditolak dan mereka terbuka untuk menerima sumber-sumber lain di luar kanon. Di dalam perkembangannya, banyak karya sarjana PB yang berorientasi pada metodologi ini. Salah satu contohnya adalah pendekatan yang dilakukan Rudolf Bultman (1884-1976) yang menekankan bahwa tulisan-tulisan PB telah terkontaminasi oleh opini dan penafsiran kembali oleh para penulisnya. Maka tugas teologi PB adalah melucuti semua pengaruh tersebut dan menemukan makna asli dari sebuah teks. Usaha ini dikenal dengan istilah demitologisasi Bultmann. Sebelumnya telah muncul tulisan F.C Baur (1792-1860) dari Tubingan yang membangun teologi PB dengan pendekatan rasionalis murni dengan menerapkan dialektika hegel (pendekatan filsafat hegelian) yang mencoba merumuskan tesis, antitesis dan sintesis dari tulisan-tulisan PB. Baur juga melakukan usaha yang menggabungkan pendekatan deskriptif dan normatif jadi satu dalam teologi PB. Metodologi Baur adalah menganalisis PB sebagai pandangan-pandangan teologi yang saling bertentangan. Bahkan Wilhelm Wrede (18659-1906), berhasil menanamkan pengaruh yang sangat besar dengan menyangkali keilahian Alkitab dan menganggapkan semua catatan PB tidak lebih dari sebuah catatan sejarah agama abad pertama. Wrede menolak kesimpulan PB sebagai sebuah dokumen teolog. Bahkan menolak kanon PB yang dianggapnya sebagai kekuatan yang membatasi hubungan tulisan-tulisan PB dengan sejumlah dokumen dokumen lain di sekitar kekristenan. Bagi Wrede, tulisan-tulisan lain di luar kanon juga penting dalam proses pembentukan – demikian Wrede menyebut teologi PB sebagai– “sejarah agama Kristen mula-mula.”[2]

Tentu saja kalangan konservatif tidak tinggal diam terhadap mainstream tersebut. Belakangan muncul kalangan Injili yang mencoba mendekati PB dengan menerima inspirasi verbal dan kanon Alkitab secara utuh. Salah seorang pendukungnya adalah Geerhardus Vos dalam bukunya Biblical Theology Old and New Testament. Juga muncul dukungan dari buku A Theology of the New Testament karangan George Elton Ladd dan Donald Guthrie yang menulis New Testemant Theology.

Beberapa Pendekatan Metodologi PB

Di bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa ada perbedaan mendasar antara teologi PL dan PB dilihat dari bagaimana kedua perjanjian ini terbentuk dan masa kepenulisannya. PL dan PB terpisah dalam rentang waktu yang sangat lama. Para penulis dan konteks kedua perjanjian sama sekali tidak terhubung dan terpisah oleh waktu, situasi, latar belakang dan kondisi-kondisi kesejarahan lainnya. Dilihat dari masa penulisan, bahan-bahan PL disusun di dalam rentang waktu yang sangat lama, mulai dari masa sebelum, selama dan sesudah pembuangan. Sementara itu, kitab PB periode penulisannya hanya sepanjang lima puluh tahun saja.[3] Perbedaan demikian membawa pengaruh dalam menentukan bentuk dan arah teologi masing-masing perjanjian. PL dapat dibagi di dalam sejumlah periode pewahyuan, tetapi PB tidak dapat mengikuti pola tersebut karena semua kitab PB ditulis dalam waktu yang relatif sangat singkat dibandingkan tulisan-tulisan PL.

Tematik atau Analitik

Permasalahan yang selama ini menguat mengenai penyajian teologi PB adalah mengenai pendekatan yang harus digunakan. Pada umumnya berkisar antara dua pendekatan, apakah analitis atau tematis. Sebetulnya, kedua pendekatan ini saling melengkapi satu dengan yang lain. Ferguson mengatakan, metode tematis harus mempertimbangkan kontribusi khusus dari setiap penulis PB sedangkan analitis, harus menunjukkan saling keterkaitan dan koherensi masing-masing kelompok tulisan.[4] Permasalahan menyangkut kedua metode ini adalah mengenai cara kerjanya dalam membangun teologi. Analitis memberikan perhatian yang luas terhadap keanekaragaman materi PB sedangkan tematis terbatas pada pokok-pokok penting saja, sejauh yang sudah disepakati secara sistematis. Pendekatan analitis mampu mengurai dan menjelaskan keterkaitan teologis antar masing-masing penulis PB dan menghadirkannya sebagai satu konsep lengkap, dengan melihat Alkitab sebagai satu kesatuan. Artinya, tidak melulu berpijak pada PB tetapi mencari keterkaitannya hingga ke bahan-bahan PL. Pendekatan analitis, misalnya, harus mampu menjelaskan hubungan antara teologi kelompok Injil Sinoptik dengan teologi kelompok surat-surat Paulus. Mengapa demikian? Karena analitik menggunakan pendekatan masa demi masa (dalam PL) dan perspektif penulis (dalam PB) sementara tematik terbatas para rubrik-rubrik tradisional yang terkesan dogmatik dan atau sistematik.

Persoalan antara analitis dan tematik juga dibahas Guthrie. Sekalipun terbuka menerima usulan Enns, Guthrie melihat bahwa teologi PB dapat didekati dengan dua pendekatan yakni menyajikan pandangan teologis dari tulisan-tulisan yang sudah dikelompok-kelompokan sebelumnya, atau melalui penggunaan tema-tema utama dari sumber-sumber yang telah dikelompokkan. Guthrie lebih cenderung pada pendekatan tematis. Metode pengelompokkan, memandang PB sebagai ilmu pengetahuan deskriptif. Sumber-sumber tulisan PB di bagi ke dalam beberapa kelompok dan masing-masing kelompok tersebut dijelaskan sifat-sifat khususnya. Misalnya tinjauan tentang Injil Sinoptik, teologi Paulus, teologi Kisah Para Rasul, dsb. Hanya saja, kelemahan dari metode ini adalah adanya ketidakseinambungan antara teologi masing-masing penulis dalam PB. Guthrie lebih memilih pendekatan kedua. Tema-tema utama dari PB diangkat dari tulisan-tulisan yang sebelumnya telah dikelompokkan terlebih dahulu. Injil misalnya dikelompokkan dalam bagian Sinoptik. Lalu kelompok tulisan-tulisan Yohanes, Kisah Para Rasul, Surat-surat Paulus, dan kelompok-kelompok kitab PB lainnya. Dari kelompok-kelompok ini, lahirlah atau dibangun tema-tema pokok tetapi tetap dalam sebuah kerangka historis yang menjelaskan kesatuan dan keragaman PB.[5] Sistematikanya adalah, menentukan tema-tema pokok,  kemudian mengkaji terhadap tema-tema tersebut berdasarkan kelompok-kelompok tulisan di dalam PB. Pendekatan tematik atau disebut juga sintetik ini terlihat dalam tulisan A.M. Hunter dalam bukunya berjudul Introducing New Testament Theology. Hunter bersikeras bahwa buku teks teologi PB hendaknya ditulis dengan pendekatan sintetis daripada analitis.[6] Hal itu juga terlihat di dalam bukunya yang banyak membahas tema tentang fakta Kristus dan Kerajaan Allah.

Masalah dari pendekatan ini adalah jebakan sistematis. Mengapa demikian? Dapat dipastikan  bahwa para penulis PB masa itu, tidak menyajikan tulisannya sebagai hasil dari apa yang telah dipikirkan sebelumnya secara sistematis. Artinya, yang membuat itu sistematis bukanlah pada penulis PB tetapi teolog sendiri. Para penulis PB hanya memfokuskan tulisan mereka pada kebutuhan gereja, orang, dan situasi pada masa itu. Sehingga, Morris menyimpulkan bahwa sebuah teologi PB adalah teologi yang seharusnya mengungkapkan apakah arti tulisan-tulisan PB, teologi apakah yang diungkap didalamnya dan unsur-unsur apa yang masih relevan hingga sekarang.[7] Enns mengakui bahwa memang pendekatan sistematika di dalam PB akan sangat membantu mengungkap teologi PB. Tetapi kelemahan dari metoda ini adalah sifatnya yang terbatas dan dianggap tidak cukup di dalam mengungkap penekanan dari para penulis PB.

Lalu pertanyaannya adalah, metode apa yang paling baik? Ryrie mengusulkan bahwa sebuah teologi PB yang komprehensif adalah teologi yang disusun dengan menganalisa karya dari masing-masing penulis PB yang merefleksikan apa yang penulis tersebut katakan tentang suatu subjek.[8] Penentuan subjek ini sangat bergantung pada apa yang dipikirkan atau ditetapkan oleh masing-masing teolog. [9] Kelihatannya, usulan dari Ryrie inilah yang kemudian banyak dikembangkan dan mempengaruhi sejumlah karya teologi PB lainnya.

Empat Kategori Hasel

Kendati demikian, Hasel melihat bahwa berdasarkan berbagai bentuk metodologi PB yang muncul dalam sejarah, terdapat empat kategori utama yang representatif mewakili pendekatan di dalam teologi PB. Masing-masing pendekatan itu adalah: (a) pendekatan tematik (The Thematic Approach); (b) pendekatan eksistensialis (The Existentialist Approach); (c) Pendekatan Sejarah (Historical Approach); dan (d) Pendekatan Sejarah Keselamatan (The Salvation History Approach).[10]

Pendekatan tematik dimotori oleh dua orang teolog yakni Alan Richardson dan Karl H. Schelkle. Melalui bukunya An Introduction to New Testament Theology (1958), Richardson dianggap sebagai peletak dasar pendekatan tematik dalam teologi PB. Melalui pengamatan pada topik-topik yang ada di dalam buku tersebut, terlihat bahwa Richardson menekankan sentralitas Yesus sebagai tema pokok PB dan usahanya untuk membangun hubungan PL ke dalam tema-tema penting PB. [11] Richardson juga melemparkan hipotesisnya bahwa skema keselamatan yang ada di dalam PL adalah hasil reinterpretasi dari Yesus sendiri, yang kemudian dinyatakan di dalam PB, bukanlah produk dari kepercayaan masyarakat.[12] Pendekatan tematik di dalam bangun teologinya dapat terlihat dari 16 tema di dalam buku itu yakni, Faith and Hearing, Knowledge and Revelatioan, The Power of God unto Salvation, The Kingdom of God, The Holy Spirit, The Reinterpreted Messiahship, The Christology of The Apostolic Church, The Life of Christ, The Ressurection, Ascension and Victory of Christ, The Atonement Wrought by Christ, The Whole of Christ, The Israel of God, The Apostolic and Priestly Ministry, Ministries within The Church, The Theology of Baptism dan The Eucharistic Theology of the New Testament. Hasel mengatakan bahwa metodologi Richardson adalah sebuah Thematic structure.[13] Penekanan lain di dalam bukunya adalah konsep gereja apostolic yang melahirkan iman apostolik. Menurutnya, teologi PB harus merefleksikan iman apostolic dari sumber-sumber PB itu sendiri.

Tokoh kedua dalam pendekatan ini adalah Karl H. Schelkle, seorang teolog katolik PB dari Tubingen. Ia menulis empat volume buku Theology of New Testament. Metodologi Schelkle tidak mengikuti perkembangan sejarah dari kerygma dan refleksinya, sebagaimana ditemukan di dalam PB itu sendiri.[14] Ia juga berkata bahwa teologi PB tidak hanya menjelaskan apa yang dikemukakan oleh PB tetapi juga menafsirkannya. Di dalam penafsiran ini, Schelkle bersifat dualistis. Di satu sisi ia menekankan pentingnya kanon sebagai sumber teologi PB tetapi disisi lain ia juga menerima pandangan dan tulisan-tulisan para bapa gereja dalam usahanya untuk menemukan , apa yang disebutnya kata-kata, konsep atau tema yang lebih berbobot dari PB. Empat tema utama yang diangkat di dalam bukunya adalah: I. Creation (world, time, man); II. Revelation  in History and in Salvation History (Jesus Christ and the Redemption; God, Spirit, Trinity); III. Christian Life (NT Morality); IV. God Dominion, Church, Consummation. Sama seperti Richardson, Schelkle juga terlihat menggunakan pendekatan sistematik di dalam penyusunan tema-tema saat membangun teologi PB-nya.

Pendekatan eksistensial, sebagaimana namanya, bersandar pada penafsiran eksistensial terhadap PB. Tokohnya yang terkenal adalah Rudolf Bultmann dengan teori rekonstruksi dan demitologisasinya. Menurutnya, untuk membangun sebuah teologi PB, penafsir perlu melakukan rekonstruksi ulang semua bahan-bahan PB dengan melakukan pemisahan antara mitos dan sejarah yang ada di dalam bahan-bahan tersebut. Baginya, demitologisasi adalah sebuah metode hermeneutik baru untuk membangun teologi PB yang sebenarnya.[15] Melalui demitologisasi, akan diperoleh penafsiran yang tepat atas bahasa mitologis yang dipakai atau yang mempengaruhi teks-teks PB akibat interpretasi penulisnya. Dalam karyanya berjudul The History of the Synoptic Tradition, Bultmann melontarkan argumentasinya bahwa hampir semua Injil sinoptik itu tidak memiliki informasi asli sejarah mengenai Yesus. Apa yang tertulis mengenai Yesus di dalam Injil-injil tersebut tidak lebih dari hasil bentukan para penulisnya dalam konteks Kekristenan mula-mula. Pengetahuan yang benar tentang Kristus adalah perjumpaan melalui kerygma.[16]

Pendekatan sejarah dikenal dari karya Werner G. Kummel dan Joachim Jeremias. Kummel membangun teologi PB dengan memusatkan perhatiannya pada hubungan antara Yesus-Yohanes-Paulus. Dalam bukunya The Theology of the New Testament According to Its Major Witness (dibuat tahun 1969 dan diterjemahkan ke dalam edisi Inggris tahun 1973), Kummel terlihat mendukung heilsgeschichte. Menurutnya, tindakan keselamatan Allah ada di dalam sejarah penebusan Yesus Kristus. Penggaliannya akan sejarah penebusan itu dimulainya dari empat saksi utama yakni Yesus, gereja kuno, Paulus dan Yohanes.  Sementara Jeremias mengembangkan pendekatan interpretasi historical truth di dalam Yesus sejarah. Dalam pandangan Jeremias, penyataan hanya bisa ditemukan di dalam pemberitaan Yesus. Surat-surat kiriman di dalam PB bukanlah wahyu tetapi tanggapan dari masyarakat yang percaya terhadap wahyu dalam Yesus. Pokok pikirannya ini terefleksi di dalam sejumlah karyanya antara lain The Problem of Historical Jesus (1964) dan New Testament Theology (1971).

Pendekatan terakhir yang disimpulkan oleh Hasel adalah pendekatan sejarah keselamatan (heilsgeschichte). Seperti diungkapkan di dalam bab sebelumnya, sejarah keselamatan adalah pendekatan yang mencoba melihat rencana penebusan Allah di dalam hubungan Allah dengan Israel. Yang pertama kali mengemukakan ini adalah Oscar Cullmann dalam karyanya Salvation in History (1965). Tesisnya adalah mempelajari hubungan Allah-Israel sebagai aliran penyataan Allah di dalam sejarah. Ladd memiliki rumusan yang berbeda soal sejarah keselamatan. Dalam bukunya A New Testament Theology, pendekatan Ladd mengenai sejarah keselamatan tidak terhubung dengan sejarah tradisi sebagaimana dilakukan Cullmann.  Sejarah keselamatan dalam pandangan Ladd adalah sebuah ‘sejarah penebusan’ atau ‘sejarah kudus’ yang terdiri dari serangkaian peristiwa dimana Tuhan menunjukkan dirinya disetiap tempat tersebut.[17]

Metodologi Osborne

Grant Osborne dalam bukunya The Hermeneutical Spiral mengusulkan sejumlah pendekatan di dalam membangun teologi Alkitab yang sesuai dengan prinsip-prinsip hermeneutik. Osborne menempatkan pendekatan tematik (atau disebut pendekatan topikal atau The Synthetic Method) di peringkat pertama. Metode ini bekerja dengan menelusuri tema-tema teologis di sepanjang Alkitab dalam berbagai periode sejarahnya. Ada tema yang bersifat menelusuri (kebanyakan dilakukan teolog PL) dan ada tema yang hanya bersifat deskriptif (kebanyakan dilakukan teolog PB). Setiap tema dijelaskan berdasarkan gambaran berbagai tradisi yang ada di belakang para penulis Alkitab. Kekuatan utama dari metode ini adakah penekanannya pada kesatuan Kitab Suci. Akan tetapi metode ini sangat subjektif.karena kategori dapat saja dengan mudah dipaksakan dari luar teks (dari teologi) daripada yang timbul secara alami dari dalam Alkitab(dari teks). Bahkan ketika konsep-konsep besar seperti perjanjian atau kerajaan diterapkan, dapat saja terjadi penyesuaian yang dipaksakan dari teks yang ada untuk mendukung tema tersebut. Sekalipun demikian, pendekatan ini banyak dipakai oleh para teolog. Dalam bukunya Theology of Old Testament misalnya, Eichrodt mengangkat tema covenant dengan menggunakan teknik “cross-section” dari sastra kanonik. Eichrodt ingin membangun pemahaman bahwa  kesatuan Alkitab terlihat dari tema tersebut. Teolog-teolog lainnya adalah Vriezen (1970) yang mengangkat tema persekutuan, Kaiser (1978) yangmengangkat tema janji dan Terrien (1978) dengan tema kehadiran Allah.

Metode kedua dari Osborne adalah metoda analitik (The Analytical Method). Metode analitikal deskriptif ini muncul pasca periode pencerahan. Metode ini berusaha mengungkap makna teologis dari setiap tulisan secara individual di dalam Alkitab dan mempelajari perkembangan atau tradisi yang mengiringi tulisan itu untuk menangkap kekhasan-nya. Metode ini menelusuri sejarah pada satu pokok tulisan. Akibatnya, prinsip kesatuan dan hubungan antar tulisan di dalam kanon, diabaikan, hanya karena terfokus pada satu tulisan saja. Memang terlihat menggali di kedalaman tetapi hanya memberikan perhatian pada hal-hal deskriptif yang sifatnya menelusuri tanpa menghasilkan refleksi iman dan tulisan tersebut.

Sama dengan salah satu metodologi yang diusulkan Hasel, Osborne juga melihat bahwa pendekatan ‘sejarah agama’ penting untuk membangun teologi PL dan PB. Metode ini memaparkan perkembangan ide-ide dalam sejarah keagamaan Israel dan gereja mula-mula. Dalam bentuk konservatif, metode ini berusaha menelusuri progresifitas wahyu Allah dalam periode kanonik.

Pendekatan diakronik yang diusulkan von Rad juga menjadi salah satu metodologi biblikal PL dan PB. Tesis utamanya adalah membangun teologi kerygmatic yang bersandar pada sejarah tradisi. Bagi von Rad, sejarah tradisi dapat menampilkan sejumlah kunci untuk menampilkan kerygma di dalam teks Alkitab. Satu hal yang tidak dijumpai dalam usulan Hasel adalah Christological Method. Metode ini bertitik tolak dari pendapat Vischer (1949) yang mengatakan bahwa penafsiran setiap bagian dari Alkitab – PL dan PB — harus dibawa di dalam terang Kristus. PL menampilkan nubuatan dan bayang-bayang tentang Kristus sementara PB adalah realisasinya. Melalui pendekatan ini, hubungan dan kesatuan kedua perjanjian dapat terbangun.

Pendekatan berikutnya adalah Confession Method. Pendekatan ini menganggap Alkitab sebagai seri iman-penyataan yang menuntut kepatuhan dan melampauhi sejarah pembentukannya. Metode ini juga menekankan pentingnya kesadaran atas pengakuan dan ibadah dalam iman alkitabiah. Alkitab dipandang sebagai buku yang berisi kandungan pengakuan iman. Pendekatan favorit Osborne adalah pendekatan The Multiplex Method. Pendekatan ini sama dengan uraiaan yang dikemukakan Hasel di Bab 3. Pendekatan ini dilakukan dalam sebuah kesadaran bahwa setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga perlu dikombinasikan satu dengan lainnya. Kekurangan dari satu metoda dapat ditutupi dengan pengunaan metoda yang lain yang dikombinasikan dengan prinsip kehati-hatian.

Pendekatan Sistematika

Pendekatan sistematika adalah teologi biblika yang dibangun dengan mengangkat tema-tema tertentu sebagaimana cara kerja teologi sistematika. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menyusun materi seperti dilakukan oleh teologi sistematik. Thiessen misalnya mengangkat tema Alkitab, Allah, malaikat, manusia, keselamatan, gereja dan hal-hal akhir sebagai tema pokok.[18] Garret menyusun tema yang lebih spesifik. Dalam bukunya Systematic Theology, sejumlah tema diuraikannya dengan lebih detail seperti: Alkitab dan terjadinya pewahyuan, Allah, kasih-Nya dan ketritunggalan, penciptaan, pemeliharaan dan makhluk-makluk rohani, kemanusiaan dan dosa, pribadi Yesus Kristus, pekerjaan Kristus, Roh Kudus, kehidupan kristiani, gereja dan hal-hal eskatologis.[19] Melalui pendekatan ini, sejumlah tema diangkat dari Alkitab dan dilihat apa yang penulis PB katakan tentang hal itu. Kalau teologi sistematika terbuka terhadap sumber-sumber lain di luar Alkitab, maka dalam penyusunan materi biblika dari tema-tema tersebut, satu-satunya sumber adalah Alkitab (penulis, latar belakang, situasi sosial politik ekonomi, waktu penulisan, tujuannya, dsb). Hal yang perlu diungkap adalah apa yang menjadi sudut pandang penulis tentang tema-tema tersebut dan bagaimana semua materi di dalam Alkitab terhubung melalui tema tersebut.

Pendekatan ini cukup populer di kalangan teolog konservatif PB dan terkesan mudah melakukannya. Kekurangannya adalah, kalau teologi PB hanya dilihat dari pendekatan sistematika, maka hanya tema-tema tertentu yang tersentuh dan mengabaikan hal-hal lainnya. Padahal, teologi PB lebih luas daripada tema-tema seperti diusulkan oleh teologi sistematika. Bahkan, tidak semua tema sistematika, berasal dari dalam PB sendiri (tetapi berasal dari presuposisi yang dimiliki oleh teolog). Padahal, fakta bahwa sewaktu tulisan PB disusun, para penulisnya sama sekali bahkan tidak memiliki pemahaman sistematika tentang apa yang mereka tulis, tidak boleh diabaikan. Pendekatan sistematika dengan pola tematik ini tentu saja terbatas di dalam mengungkap teologi PB tetapi sangat bermanfaat untuk mempelajari pokok-pokok dominan di dalam PB. Misalnya, tentang pokok keselamatan. Teologi biblika harus berusaha menemukan apa yang penulis PB katakan tentang tema tersebut, mulai dari Injil Sinoptik hingga tulisan-tulisan lainnya dalam PB.

Teologi Penulis

Selain menggunakan pendekatan sistematika, penyusunan teologi PB dapat juga dilakukan dengan melihat kekhasan masing-masing tulisan PB menurut kelompok-kelompok yang diklasifikasi berdasarkan penulisnya. Di dalam metodologi ini, teologi biblika menelusuri dan mengungkap apa yang sebetulnya ingin dikatakan oleh Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus, Yakobus, Petrus di dalam tulisan-tulisannya. Kepada siapa tulisan itu ditujukan, apa yang menjadi pokoknya. Pembahasan mengenai hal-hal tersebut akan menemukan dan mengangkat penekanan teologis dari masing-masing penulis. Pendekatan ini banyak dipakai oleh sejumlah teolog karena lebih luas jangkauannya dibanding pendekatan sistematis yang terbatas. Sejumlah tema dapat diangkat di dalam tulisan Matius yang dapat saja berbeda dengan tema yang terkandung dalam tulisan-tulisan Paulus. Pendekatan sistematis akan menyamaratakan (bahkan bisa terkesan memaksakan) tema di dalam teologi penulis PB. Tetapi pendekatan dengan menggunakan teologi penulis memiliki kandungan tema yang sangat variatif.

Pembagian yang umum dilakukan teolog PB untuk pendekatan ini adalah sebagai berikut :

  • Teologi Injil Sinoptik
  • Teologi Kisah Para Rasul
  • Teologi Yakobus
  • Teologi Paulus
  • Teologi Surat Ibrani
  • Teologi Petrus
  • Teologi Yudas
  • Teologi Wahyu Yohanes

Pendekatan Kombinasi Kompleks

Untuk membangun teologi PB, ternyata dapat dilakukan pendekatan dari berbagai arah. Berbagai ide teologi dari para teolog PB sudah membuktikan hal itu. Secara garis besar, pendekatan yang paling umum dijumpai adalah kombinasi dari dua metoda yakni analitikal dan tematis, yang bisa didekati dari metodologi sistematika atau sudut pandang penulis. Apapun strateginya dan metodologi apa yang dipilih, agar teologi memiliki pertanggungjawaban biblika, Enns mengusukan 5 hal penting yang harus menjadi rambu-rambu, yaitu:.[20]

(1). Pewahyuan adalah progresif, mencapai puncaknya dalam wahyu tentang Kristus. Teologi PB harus dapat menggambarkan puncak-puncak doktrin yang berkaitan dengan Kristus dan penebusan;

(2). Penekanan PB berpusat pada kepercayaan akan kematian dan kebangkitan Yesus dan pengharapan eskatologis akan kedatanganNya yang kedua kali. Teologi PB harus melihat penekanan ini di setiap penulis PB;

(3). Teologi PB harus mengakui dan melihat adanya kesatuan antara pengajaran Yesus dengan pengajaran dari para penulis PB lainnya;

(4). Keragaman dari tulisan-tulisan PB tidak menyebabkan kontradiksi tetapi berakal dari pewahyuan ilahi di dalam PB;

(5). Teologi PB harus mengaplikasikan metode analitik tanpa mengesampingkan metode tematik karena metode itulah yang mampu merefleksikan keragaman PB. Berdasarkan argumentasi tersebut Enss setuju untuk mengkombinasikan kedua pendekatan sesuai kepentingan dan kegunaan teologis.


[1] Sinclair B. Ferguson, David F. Wright dan J.I. Packer, New Dictionary of Theology Jilid 2 (Malang: Literatur SAAT, 2009), 399.

[2] Ibid., 399. Wrede bahkan mengatakan bahwa penamaan Teologi Perjanjian Baru adalah keliru. Menurutnya PB bukanlah kumpulan teologi tetapi agama yang hidup di dalam kesaksian dan tulisan para penulis PB, yang menjadi pengalaman mereka. Wrede lebih melihat PB sebagai soal agama daripada soal teologi.

[3] Paul Enns, The Moody Handbook of Theology Jilid 1 (Malang: Literatur SAAT, 2003), 89

[4] Ibid., 402.

[5] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jilid 1 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 36-38.

[6] George Elton Ladd, Teologi Perjanjian Baru, Jilid 1 (Bandung: Kalam Hidup, 2002), 39.

[7] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2006), 11.

[8] Charles Ryrie, Biblical Theology of the New Testament (Chicago: Moody Press, 1959), 19-20.

[9] Guthrie mengusulkan sembilan tema utama yang seharusnya ada di dalam sebuah teologi PB berdasarkan pendekatan yang diusulkannya yakni: (1) Ajaran mengenai Allah; (2) Manusia dan dunianya termasuk kodratnya; (3) Kristologi; (4) Pribadi dan karya Kristus di dunia – Misi Kristus di dunia; (5) Pribadi dan Karya Roh Kudus; (6) Kehidupan Kristen; (7) Jemaat; (8) Mase depan manusia secara eksatologis; (9) Etika PB. Lihat selengkapnya dalam Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, 38-40. Leon Morris fokus pada Allah, Yesus dan KaryaNya, Roh Kudus dan Pola Hidup Murid. Kombinasi dari kedua penulis itu juga yang dipakai oleh George Elton Ladd dalam bukunya Teologi Perjanjian Baru (Bandung: Kalam Hidup, 2002). Juga ditambah dengan tema kejemaatan di dalam pembahasan John Drane, Memahami Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006). Kebanyakan buku tersebut berbasis dari tema atau subjek-subjek tertentu. Memang terlilhat seperti pendekatan teologi isstematika tetapi, pembahasannya ditekankan pada unsur-unsur teologis dari setiap kelompok tulisan PB atau menurut penulisnya.

[10] Gerhard Hasel, New Testament Theology: Basic Issues in the Current Debate (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Co, 1982), 73-111.

[11] Selengkapnya dalam Alan Richardson, An Introduction to New Testament Theology (New York: Harpers and Brothers Publisher, 1958).

[12] Ladd, Teologi Perjanjian Baru, 22.

[13] Hasel, New Testament, 76.

[14] Ibid., 78.

[15] Ibid., 85

[16] Ferguson, New Dictionary, 166. Sebelum Injil Markus di terbitkan atau sekurang-kurangnya lima belas tahun sebelum Paulus menulis suratnya yang pertama, para Rasul di Yerusalem mempermaklumkan kerygma mereka yakni ‘berita keselamatan’. Kerygma turun dari kata kerja Yunani kerysso, yang artinya ‘saya beritakan’ atau ‘saya proklamasikan’ atau ‘saya wartakan.’ Kata ini juga diterjemahkan dengan ‘pemberitaan’. Fokus dari teologi kerygma tidak terletak pada proses atau bagaimana pemberitaan itu berlangsung tetapi menyangkut ‘apa yang diberitakan’. Penekanannya pada ‘berita’. Dalam pengertian lain kata ini sinonim dengan ‘Injil’. Inti dari pemberitaan ini adalah janji PL telah digenapi dan zaman baru telah datang melalui kehadiran Kristus. Bultmann banyak menggunakan istilah ini dalam usahanya mencari Yesus sejarah. Menurutnya, penulisan PB terjadi dalam konteks proklamasi gereja mula-mula dan karena itu teks PB bersifat kerygmatis. Dengan demikian, usaha sia-sia untuk mencari apa yang terjadi dibalik kerygma gereja mula-mula. Bacaan untuk memperdalam ini ada di Ferguson, New Dictionary, 256. Atau juga di Hunter, Introduction New Testament Theology, 65.

[17] Hasel, New Testament Theology, 121.

[18] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika (Malang: Gandum Mas, 2008), v-vii.

[19] James Leo Garret, Systematic Theology – Biblical, Historical and Evangelical (Grand Rapis, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1995)

[20] Lihat uraian panjang lebar dalam Enns, The Moody Handbook of Theology Jilid 1 (Malang: Literatur SAAT, 2003), 89. Juga dalam Charles R. Ryrie, Biblical Theology of the New Testament (Chicago: Moody, 1959), 19-20.

 

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2011 in Theology

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: