RSS

Analisis Mazmur 18:8-16

30 Mar
Oleh : Sonny Eli Zaluchu

Mazmur 18:8-6 berisi “Lalu goyang dan goncanglah bumi, dan dasar-dasar gunung gemetar dan goyang, oleh karena menyala-nyala murka-Nya.  Asap membubung dari hidung-Nya, api  menjilat keluar dari mulut-Nya, bara menyala keluar dari pada-Nya.  Ia menekukkan langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya.  Ia mengendarai kerub, lalu terbang dan melayang di atas sayap angin.  Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi persembunyian-Nya, ya, menjadi pondok-Nya: air hujan yang gelap, awan yang tebal. Karena sinar di hadapan-Nya hilanglah awan-awan-Nya bersama hujan es dan bara api. Maka TUHAN mengguntur di langit, Yang Mahatinggi memperdengarkan suara-Nya. Dilepaskan-Nya panah-panah-Nya, sehingga diserakkan-Nya mereka, kilat bertubi-tubi, sehingga dikacaukan-Nya mereka. Lalu kelihatanlah dasar-dasar lautan, dan tersingkaplah alas-alas dunia karena hardik-Mu, ya TUHAN, karena hembusan nafas dari hidung-Mu.
Untuk lebih mudah melakukan analisis terhadap nats tersebut di atas, maka susunannya diubah menjadi seperti berikut ini
8     a    Lalu goyang dan goncanglah bumi,
b                dan dasar-dasar gunung gemetar dan goyang,
c                            oleh karena menyala-nyala murka-Nya.
9     a    Asap membubung dari hidung-Nya,
b                api menjilat keluar dari mulut-Nya,
c                            bara menyala keluar dari pada-Nya.
10   a    Ia menekukkan langit, lalu turun,
b                kekelaman ada di bawah kaki-Nya.
11   a    Ia mengendarai kerub,
b                lalu terbang dan melayang di atas sayap angin.
12  a     Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi persembunyian-Nya, ya, menjadi
pondok-Nya:
b                air hujan yang gelap, awan yang tebal.
13   a    Karena sinar di hadapan-Nya hilanglah awan-awan-Nya
b                bersama hujan es dan bara api.
14   a   Maka TUHAN mengguntur di langit,
b                Yang Mahatinggi memperdengarkan suara-Nya.
15   a    Dilepaskan-Nya panah-panah-Nya, sehingga diserakkan-Nya mereka,
b                kilat bertubi-tubi, sehingga dikacaukan-Nya mereka.
16   a   Lalu kelihatanlah dasar-dasar lautan,
b               dan tersingkaplah alas-alas dunia
c   karena hardik-Mu, ya TUHAN,
d               karena hembusan nafas dari hidung-Mu.
Analisis Struktur
Mazmur 18 adalah nyanyian yang panjang sehingga terdiri dari beberapa stanza. Berdasarkan susunan tersebut di atas maka terlihatlah bahwa Mazmur 18:8-16 merupakan satu stanza tersendiri di dalam Mazmur 18. Stanza ini terdiri dari 5 strofa pendek dengan jumlah kola yang variatif. Pembagiannya sebagai berikut :

Strofa 1            : 8a sd 9c        (terdiri dari enam kola)
Strofa 2           : 10a sd 12a     (terdiri dari lima kola)
Strofa 3           : 12b sd  14b    (terdiri dari lima kola)
Strofa 4           : 15a sd 15b     (terdiri dari dua kola)
Strofa 5           : 16a sd 16d    (terdiri dari empat kola)

Jika dilihat dari polanya, Fokkelman mengusulkan skema ABXB’A’ untuk keseluruhan stanza. Amarah dan gempa bumi menghubungkan A-A’, peperangan dan gerakan Allah dari surga ke bumi menghubungkan B-B’ sementara X merupakan pandangan paradoksal tentang Allah yang unik.[1] Jalan pikiran Fokkelman ini membagi stanza tersebut di atas dengan A sebagai dampak dari tindakan-Nya (strofa 1,5) sedangkan B adalah aktifitas-Nya (strofa 2,4). Terlihat bahwa Fokkelman mencoba melihat struktur ini dengan mengacu pada stanza.

Akan tetapi jika strukturnya mengacu pada cola, maka polanya menjadi AB dimana A sama dengan B. Induk kalimat A di setiap ayat menjadi setara dengan B, anak kalimatnya. Inilah yang oleh Longman disebut sebagai sinonimus paralelisme. Artinya, terjadi pengulangan pikiran yang sama menggunakan dua kumpulan kata-kata yang berbeda tetapi berhubungan erat. Dalam hal ini, bagian dari anak kalimat pertama (A), paralel dengan kata yang hampir sinonim dengan anak kalimat kedua (B).[2] Contohnya: Lalu goyang dan goncanglah bumi, sebagai anak kalimat A, menjadi paralel dalam hal isi dan makna dengan dan dasar-dasar gunung gemetar dan goyang, oleh karena menyala-nyala murka-Nya sebagai anak kalimat B.

Bahkan juga terlihat elipsis.[3] Contohnya ayat 16. Lalu kelihatanlah dasar-dasar lautan,  dan tersingkaplah alas-alas dunia karena hardik-Mu, ya TUHAN, (Lalu kelihatanlah dasar-dasar lautan,  dan tersingkaplah alas-alas dunia) karena hembusan nafas dari hidung-Mu. Sekalipun kalimat yang berada di dalam kurung dan digaris bawahi tidak diulang di dalam anak kalimat kedua, pengertiannya sama dengan maksud dari anak kalimat pertama. Elipsis juga dapat dijumpai di dalam ayat 5 dimana anak kalimat kedua tidak perlu mencantumkan kata kerja “dilepaskan-Nya” untuk mendahului kalimat ‘kilat yang bertubi-tubi.’

Genre
Mazmur yang di analisis (Mazmur 18:8-16) adalah satu stanza dari stanza lain di Mazmur 18 secara keseluruhan.  Dengan melihat judul dari Mazmur ini di ayat 1, Untuk pemimpin biduan. Dari hamba TUHAN, yakni Daud yang menyampaikan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN, pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari tangan Saul, terlihat bahwa genre dari perikop ini adalah keselamatan dari Tuhan, sebagai sebuah nyanyian syukur Daud yang menyelamatkannya dari tangan musuh-musuhnya yang dalam puisi ini salah satunya adalah Saul. Secara khusus Daud berbicara tentang tindakan dan campur tangan Allah di dalam strofa 2,3 dan 4 sedangkan di dalam strofa 1 dan 5 Daud membeberkan dahsyatnya akibat dari campur tangan Allah tersebut. [4] Daud memberi gambaran bahwa Allah yang sedang dipuji dan disembahnya adalah Allah yang selalu mendengar keluh kesahnya dan bertindak membelanya. Untuk itulah Daud mengucapkan syukur. Maka genre untuk perikop ini adalah Mazmur Pengucapan Syukur (a royal song of thanksgiving).[5] Di dalam studi tentang Mazmur genre ini juga disebut sebagai lagu kemenangan atau lagu baru (new song).[6]

Imagery
Sebagai sebuah kitab puisi, maka tentu saja Mazmur mengandung imageri. [7] Mazmur 18:8-16 juga kaya dengan image tentang Allah (imagery) dan perbuatan tangan-Nya yang digambarkan seperti ‘murka yang menyala-nyala’, sosok yang ‘mengendarai kerub’, ‘membuat kegelapan’, ‘mengguntur’ dan ‘melepaskan panah’. Di dalam perikop ini tidak terdapat imageri simile tetapi mengandung banyak metafora.

Deskripsi dari penggambaran itu adalah sebagai berikut :
Kalimat Metafora Makna
menyala-nyala murka-Nya, Asap membubung dari hidung-Nya, api menjilat keluar dari mulut-Nya, bara menyala keluar dari pada-Nya Allah digambarkan sebagai api yang menyala-nyala, sosok yang panas sekali sehingga mengeluarkan asap dan api Menjelaskan tentang kemarahan Allah yang tidak dapat dihalangi oleh siapapun. Makna yang tersembunyi dibalik metafora ini ada dua, yaitu peringatan kepada musuh-musuhNya dan sikap untuk tidak memancing amarah-Nya.
Ia menekukkan langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya. Ia mengendarai kerub, lalu terbang dan melayang di atas sayap angin. Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi persembunyian-Nya, ya, menjadi pondok-Nya: Allah digambarkan sebagai sosok yang sangat berkuasa sehingga bisa menaklukan alam. Ia digambarkan sebagai sosok orang yang sangat berkuasa, memiliki kendaraan, punya tempat persembunyian dan dapat melayang terbang seperti burung di langit. Menjelaskan tentang Allah yang berkuasa atas alam dan mampu mengaturnya sekehendak hatiNya. Dalam metafora ini Allah dikukuhkan sebagai pencipta langit bumi dan seisinya. Dia menunggangi awan.[8] Dan apapun yang ada di bawah kolong langit, tidak akan mampu menyaingi-Nya. Sungguh Allah maha kuasa. Kegelapan yang dibuatnya dapat ‘membutakan’ penglihatan musuh-musuh-Nya sehingga tidak mampu melihat dan menemukan-Nya. Kegelapan itu juga terhubung dengan saat penghakiman-Nya.[9]
TUHAN mengguntur di langit Allah dilukiskan seperti suara guntur yang menggelegar Guntur dapat membuat orang ketakutan. Menjelaskan tentang power yang menakutkan dari Allah dan otoritas-Nya. Suara-Nya membahana dan menjangkau ke seluruh kosmis ciptaan.[10]
Dilepaskan-Nya panah-panah-Nya Allah digambarkan sebagai seorang pemanah, prajurit di dalam medan perang, atau juga sebagai pahlawan yang gagah perkasa Dalam metafora ini Allah mampu menghadapi musuh-musuhnya, menyerang dan mengalahkan mereka. Panah merupakan bagian dari penghukuman-Nya.[11]
Rujukan Paralel
Mazmur 18 adalah nyanyian pujian Daud atas perlindungan Tuhan di dalam hidupnya. Sebagai ungkapan atas setiap pembelaan yang Tuhan nyatakan di dalam menghadapi musuh-musuhnya, Daud menyusun mazmur ini. Menurut Fokkelman, nyanyian ini termasuk nyanyian besar dan salah satu yang terpanjang hingga terdiri dari 111 kola.[12] Keselamatan dari Tuhan menjadi salah satu tema pokoknya, secara khusus di dalam bagian Mazmur 18:8-16, di sana diceritakan perbuatan Tuhan yang dahsyat ketika Ia turun ke bumi membela orang-orang yang menjadi kepunyaan-Nya. Longman menuliskan, “keselamatan ini dinyatakan secara dramatis melalui gambaran Tuhan sebagai seorang pahlawan yang ‘menjangkau dari tempat tinggi dan mengambil aku’ (Maz 18:17).”[13] Jadi dapat disimpulkan bahwa Mazmur 18:8-16 menggambarkan bagaimana Allah bertindak dan melakukan sesuatu untuk membela orang benar.
Rujukan paralel di dalam II Samuel 22:2-51 memberikan informasi penting. Kedua perikop ini hampir identik. Isi dari II Samuel 22:2-51 secara keseluruhan identik dengan isi Mazmur 18. Informasi di dalam II Samuel 22:1 memberi penegasan bahwa, “Daud mengatakan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul.” Bahkan dengan indah, ‘sosok’ Tuhan yang telah menyelamatkannya itu digambarkan (imagery) sebagai bukit batu, benteng pertahanan, pembebas, perisai, tanduk, tempat pelarian dan tempat berlindung. Sebelum pasal II Samuel 22, Daud berada di dalam pelarian dan konflik yang berkepanjangan. Dia melarikan diri dari Yerusalem karena pemberontakan Absalom (II Samuel 15), dikutuki dan dilempari batu oleh Simei dalam pelarian (II Sam 16:5-14), pemberontakan Seba (II Samuel 20) dan peperangan Daud melawan orang-orang Filistin (II Samuel 21:15-22). Semua hal tersebut seolah menjadi titik balik pada waktu Daud merasakan pembelaan Tuhan yang nyata di dalam hidupnya sehingga musuh-musuh bertekuk lutut di bawah kakinya.
Gambaran kedahsyatan pembelaan Tuhan kepada Daud dalam Kitab II Samuel tersebut digambarkan atau dibandingkan dengan bumi bergoncang, bergetar (ay.8), api, angin, kegelapan, awan, kilat, air yang bergolak untuk menggambarkan jawaban Tuhan atas tangisan orang yang disiksa (ay. 5-17). Bahkan Yang Maha Tinggi digambarkan sebagai sosok yang mengendarai kerub dan terbang, tampak di atas sayap angin.[14] Begitu nyatanya pembelaan Tuhan yang digambarkan Daud di dalam nyanyian ini, memperlihatkan sosok Tuhan yang terlihat dan bertindak, yang tidak hanya duduk diam ‘di atas’ sana tetapi ‘turun’ ke bumi menyelamatkan umatNya.[15] Maksudnya adalah, bukan hanya tema keselamatan saja yang dapat dijumpai di dalam Mazmur 16:8-16 melainkan juga tema tentang Allah yang turun ke bumi. Dalam penafsiran Barth dan Pareira dikatakan, sebagaimana Ia turun untuk melepaskan umat-Nya dari tangan orang Mesir, untuk menjadikan Israel umat-Nya di Sina’i, turun melaksanakan hukum-Nya, “demikian Ia turun sekarang.”[16] Fenomena-fenomena seperti asap, api, goncangan, kilat, angin, kegelapan, dan sebagainya itu adalah sebuah lukisan dari akibat kedatangan-Nya.
Pokok Pikiran dan Tafsiran

Strofa-1: Sifat Murka Allah
8    a     Lalu goyang dan goncanglah bumi,
b                dan dasar-dasar gunung gemetar dan goyang,
c                            oleh karena menyala-nyala murka-Nya.
9    a    Asap membubung dari hidung-Nya,
b                api menjilat keluar dari mulut-Nya,
c                            bara menyala keluar dari pada-Nya.
Strofa ini berbicara tentang sifat dan bentuk kemarahan atau murka Allah. Ketika itu terjadi, bumi dan gunung yang demikian kokoh itu, bisa tergoncang. Apa yang kokoh dalam pandangan manusia, dapat tergoncang ketika Allah bertindak. Artinya, tidak ada yang dapat bertahan di dalam kemarahan-Nya. Allah juga digambarkan sebagai sosok yang tidak tertandingi di dalam kemarahan sehingga dalam strofa disebut asap membumbung dari hidung-Nya, api menjilat keluar dari mulutNya dan ada bara api yang keluar dari-Nya. Kemarahan Allah dapat menghanguskan siapapun ! Terlihat pemazmur menggambarkan Allah sebagai ‘sosok manusia’ yang memiliki wajah (penggambaran hidung, mulut dan badan-Nya).
Strofa-2: Allah Turun
10  a    Ia menekukkan langit, lalu turun,
b                kekelaman ada di bawah kaki-Nya.
11   a    Ia mengendarai kerub,
b                lalu terbang dan melayang di atas sayap angin.
12  a     Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi persembunyian-Nya, ya, menjadi pondok-
Nya: air hujan yang tebal, awan yang gelap.
Di dalam strofa ini Allah digambarkan sebagai ‘pribadi’ yang turun dari tahta-Nya dan melakukan sesuatu di bumi. Digambarkan oleh pemazmur bagaimana Allah mengendarai kerub dan terbang ‘mengatasi alam’. Meskipun demikian, sosoknya tidak kelihatan karena dikatakan Ia bersembunyi di dalam kegelapan. Pemazmur bermaksud menjelaskan bahwa ketika Allah hadir dan turun ke bumi, manusia hanya merasakan dampak dari keberadaan-Nya tanpa bisa melihat sosok-Nya.
Strofa-3: Allah yang unik
13   a    Karena sinar di hadapan-Nya hilanglah awan-awan-Nya
b                bersama hujan es dan bara api.
14   a   Maka TUHAN mengguntur di langit,
b                Yang Mahatinggi memperdengarkan suara-Nya.
Fokkelman menyebutkan strofa ini sebagai gambaran Allah  yang unik. Mengapa? Kehadiran Allah penuh dengan cahaya dan menghasilkan suara yang menggelegar di langit. Pemazmur mengingatkan bahwa Allah memiliki satu otoritas dimana semua makhluk taat kepada-Nya. Sampai dalam strofa yang ketiga ini, maksud pemazmur masih belum terungkap.
Strofa-4: Musuh dikalahkan
15   a    Dilepaskan-Nya panah-panah-Nya, sehingga diserakkan-Nya mereka,
b                kilat bertubi-tubi, sehingga dikacaukan-Nya mereka.
Strofa ini akhirnya memberi penjelasan maksud dari tiga strofa di atasnya yang sekaligus menjawab pertanyaan mengapa Allah turun dan bertindak? Apakah yang membuat-Nya marah? Di dalam strofa ini, pemazmur akhirnya menjelaskan bahwa Allah marah bukan kepada milik-Nya dan turun bukan untuk mengacaukan alam semesta. Melainkan, Allah turun ke bumi untuk membela kepentingan anak-anak-Nya, marah kepada musuh-musuh dan menyerakkan mereka. Pokok pikiran pemazmur terungkap di dalam strofa ini yang menjelaskan bahwa Allah selalu bertindak membela dan menghalau musuh-musuh orang-orang yang percaya kepada-Nya. Jika dilihat secara keseluruhan maka, sesuai dengan genre perikop ini, pemazmur menggambarkan pembelaan Allah kepada Daud di dalam menghadapi musuh-musuhnya.
Strofa-5: Akibat
16   a   Lalu kelihatanlah dasar-dasar lautan,
b               dan tersingkaplah alas-alas dunia
c   karena hardik-Mu, ya TUHAN,
d               karena hembusan nafas dari hidung-Mu.
Stanza ini ditutup dengan ‘akibat’ dari tindakan Allah terhadap musuh. Kegoncangan yang dilakukan-Nya membuat dasar laut terlihat . Pemazmur sebetulnya menjelaskan sebuah anti-klimaks dari tindakan Allah dan sisa-sisa dari kemaraha-Nya. Strofa ini menjelaskan peristiwa setelah Allah bertindak.
Kesimpulan
Berdasarkan analisa struktur, genre dan pokok pikiran pemazmur di dalam Mazmur 18:8-16, maka dapat disimpulkan bahwa perikop ini menjelaskan tentang :
1. Sifat kemarahan dan murka Allah
2. Allah yang bertindak turun ke bumi
3. Uniknya keberadaan Allah
4. Ganjaran Allah kepada musuh-musuh-Nya
5. Dampak dari kemarahan-Nya.
Pemazmur menyampaikan pesan bahwa pembelaan Allah selalu nyata bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya di satu sisi dan menakutkkan bagi orang-orang yang mengundang kemarahan-Nya.
Implikasi
Mazmur 18:8-16 secara khusus dan Mazmur 18 secara keseluruhan berbicara tentang :
1.  Kesadaran akan kehadiran Allah. Dia ada dan hadir secara nyata disekeliling umat pilihan-Nya dan tidak pernah meninggalkan mereka. Sebagaimana dikatakan di dalam Mazmur 34:7, “Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.” Maka dimanapun kita berada, apapun yang menjadi situasi dan keadaan kita, Dia tidak akan pernah membiarkan kita sendiri. Daud sadar bahwa Allah selalu hadir di dalam hidupnya. Hal yang sama juga menjadi teladan penting bagi kita bahwa Dia selalu hadir disekitar kita.
2.  Pembelaan Tuhan terhadap milik kepunyaan-Nya bukan hanya menjaga tetapi bertindak menghadapi musuh-musuh. Dia ikut berperang dan menghalau musuh, mengacaubalaukan mereka seperti janji-Nya di dalam Mazmur 68:1. “Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya.” Pembelaan Tuhan juga bersifat membebaskan. Catatan di dalam PL berupa pembebasan dari Mesir, pembebasan dari musuh-musuh Israel di zaman Hakim-hakim dan Nabi-nabi, di terlebih di dalam PB dimana Yesus diutus ke bumi untuk membebaskan manusia dari hukum dosa, membuktikan bahwa Allah memiliki misi pembebasan bagi umat-Nya. Tema pembebasan ini membuktikan rencana Allah yang telah disusun di dalam kekekalan bagi setiap kita yang percaya kepada-Nya.
3. Hubungan dengan Allah. Salah satu alasan bagi Daud melantunkan nyanyian ini adalah rasa syukurnya kepada Allah yang selama ini terhubung dengannya. Melalui apa yang telah Allah lakukan dalam hidupnya, sekecil apapun, Daud mengakui dan memuji-Nya dengan kerendahan hati. Hubungan dengan Allah adalah salah satu pokok penting di dalam kehidupan rohani. Hubungan yang dimaksud bukanlah hubungan rutinitas atau formalitas melainkan hubungan kebergantungan yang menjelaskan, tanpa Allah, Daud dan kita, tidak akan berarti apa-apa.
Daftar Pustaka
Barth, Marie Claire dan B.A. Pareira. Kitab Mazmur 1-71 Pembimbing dan Tafsirannya. Jakarta: BPK, 2009.
Bergant, Dianne dan Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 2002.
Cross, Frank Moore dan David Noel Freedman. Studies in Ancient Yahwistic Poetry. Cambridge, U.K.: William B. Eerdmans Publishing Co., 1997.
Fokkelman, J. P. Reading Biblical Poetry: An Introductory Guide. Kentucky: Westminster John Knox Press, 2001.
Longman III, Tremper. Bagaimana Menganalisa Kitab Mazmur. Malang: Literatur SAAT, 2007.
der Meer, Willcm van and Johannes C. de Moor. The Structural Analysis of Biblical and Canaanite Poetry. England: JOST Press, 1988.
Pfeiffer, Charles F. dan Everett F. Harrison.The Wycliffe Bible Commentary. Malang: Gandum Mas, 2005.
Ryken, Leland (Ed.). Dictionary of Biblical Imagery. Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1998.

[1]J. P. Fokkelman, Reading Biblical Poetry: An Introductory Guide (Kentucky: Westminster John Knox Press, 2001), 43.

[2] Tremper Longman III, Bagaimana Menganalisa Kitab Mazmur (Malang: Literatur SAAT, 2007), 116.

[3] Ellipsis adalah istilah untuk paralelisme lengkap dimana setiap bagian anak kalimat pertama paralel dengan setiap bagian yang terdapat di dalam anak kalimat kedua.

[4] Secara teknis, genre adalah sekumpulan ayat-ayat yang sama dalam mood, isi, struktur dan pengetiannya sehingga melaluinya kumpulan ayat-ayat itu memiliki tipe tertentu yang berbeda dari kumpulan yang lain. Melalui genre kita dapat mengidentifikasi sebuah teks sehingga amat memudahkan di dalam membaca dan menafsirkannya. Banyak ahli memberikan usulan yang berbeda di dalam mengidentifikasi genre Mazmur. Tetapi secara umum, genre Mazmur terdiri dari beberapa macam seperti Mazmur Pujian atau Nyanyian, Mazmur Pengakuan Dosa, Mazmur Peringatan, Mazmur Kutukan/Laknat, Mazmur Keluhan, Mazmur Pengucapan Syukur, Mazmur Penyelamatan Mesianik, Mazmur Raja dan Mazmur Hikmat. Uraian yang lebih spesifik tentang genre di dalam Mazmur dapat dibaca di C. Hassel Bullock, Kitab-kitab Puisi Dalam Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2003), 184-193.

[5] Baca penjelasan yang sangat lengkap di bagian A Royal Song of Thanksgiving dalam Frank Moore Cross, Jr dan David Noel Freedman, Studies in Ancient Yahwistic Poetry (Cambridge, U.K.: William B. Eerdmans Publishing Co., 1997), 82-106.

[6] Leland Ryken (Ed.), Dictionary of Biblical Imagery (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1998), 301.

[7] Image atau imagery adalah gambaran-gambaran yang melukiskan sesuatu. Di dalam kitab-kitab Puisi seperti Mazmur, terdapat banyak sekali gambaran atau lukisan tentang Allah yang disebut seperti misalnya, ‘gunung-batuku’; ‘perisai’; dsb. Juga terdapat personifikasi dimana karakteristik manusia dikenakan kepada benda mati. Ada dua bentuk image yang umum dikenal yakni Simile dan Metafora. Imageri simile berbicara dengan memberikan perbandingan langsung. Umumnya menggunakan kata ‘seperti’. Di dalam Mazmur 42:2 di-simile-kan jiwa yang merindukan Tuhan  dengan rusa yang sedang kehausan. Sementara metafora memberikan perbandingan tidak langsung (tanpa ‘seperti’). Contohnya Mazmur 23:1 ‘Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku’, disana Tuhan dimetafora sebagai seorang gembala.

[8] Ryken, Dictionary of Biblical, 566.

[9] Ibid., 368.

[10] Ibid., 621.

[11] Ibid., 570.

[12] Fokkelman, Reading, 151.

[13] Longman III, Bagaimana Menganalisa, 30.

[14] Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 308.

[15] Lihat juga uraian di dalam Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison dalam The Wycliffe Bible Commentary (Malang: Gandum Mas, 2005), halaman 138, yang menggambarkan Allah melakukan pelepasan dan hadir secara teofani.

[16] Marie Claire Barth dan B.A. Pareira, Kitab Mazmur 1-71 Pembimbing dan Tafsirannya (Jakarta: BPK, 2009), 243.

 
Leave a comment

Posted by on March 30, 2011 in Theology

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: